Kasus Ekspor Benur, KPK Duga Istri Edhy Prabowo Beli Jam Tangan Mewah di AS

Farih Maulana Sidik - detikNews
Kamis, 25 Feb 2021 13:12 WIB
Mantan Menteri KKP Edhy Prabowo
Edhy Prabowo (Farih Maulana Sidik/detikcom)
Jakarta -

KPK menduga istri Edhy Prabowo, Iis Rosita Dewi, membeli jam tangan mewah di Amerika Serikat. Hal itu terungkap setelah penyidik KPK memeriksa Direktur Pemantauan dan Operasi Armada Kementerian Kelautan dan Perikanan, Pung Nugroho Saksono, kemarin.

"Pung Nugroho didalami pengetahuannya terkait dengan dugaan pembelian jam tangan mewah oleh istri tersangka EP (Edhy Prabowo) di Amerika Serikat," kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri kepada wartawan, Kamis (25/2/2021).

KPK juga memeriksa seorang notaris bernama Selasih. Penyidik KPK mendalami terkait dugaan pembelian tanah oleh tersangka Andreau Pribadi Misanta melalui istrinya. KPK menduga uang yang dipakai untuk membeli tanah itu bersumber dari para eksportir benih lobster atau benur di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Sementara itu, seorang saksi bernama Noer Syamsi Zakaria didalami KPK terkait dengan dugaan pembelian material untuk pembangunan rumah Edhy Prabowo. Uang untuk membeli bahan bangunan itu juga diduga bersumber dari kumpulan uang para eksportir yang mendapatkan izin ekspor benur di KKP pada 2020.

Ada juga seorang mahasiswi yang turut dipanggil KPK kemarin. Mahasiswi tersebut bernama Esti Marina.

"Didalami pengetahuannya terkait dugaan kepemilikan sejumlah uang dari tersangka APM (Andreau Pribadi Misata)," katanya.

Dalam kasus ini, total ada tujuh tersangka yang ditetapkan KPK, termasuk Edhy Prabowo. Enam orang lainnya adalah Safri sebagai mantan staf khusus Edhy Prabowo, Andreau Pribadi Misanta sebagai mantan staf khusus Edhy Prabowo, Siswadi sebagai pengurus PT Aero Citra Kargo (PT ACK), Ainul Faqih sebagai staf istri Edhy Prabowo, Amiril Mukminin sebagai sekretaris pribadi Edhy Prabowo, serta seorang bernama Suharjito sebagai Direktur PT DPP.

Dari keseluruhan nama itu, hanya Suharjito yang ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap, sisanya disebut KPK sebagai penerima suap.

Secara singkat, PT DPP merupakan calon eksportir benur yang diduga memberikan uang kepada Edhy Prabowo melalui sejumlah pihak, termasuk dua stafsusnya. Dalam urusan ekspor benur ini, Edhy Prabowo diduga mengatur agar semua eksportir melewati PT ACK sebagai forwarder dengan biaya angkut Rp 1.800 per ekor.

KPK menduga suap untuk Edhy Prabowo ditampung dalam rekening anak buahnya. Salah satu penggunaan uang suap yang diungkap KPK adalah ketika Edhy Prabowo berbelanja barang mewah di Amerika Serikat (AS), seperti jam tangan Rolex, tas LV, dan baju Old Navy.

Dari nama-nama tersangka di atas, Suharjito tengah menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta. Dia didakwa memberi suap ke Edhy Prabowo sebesar Rp 2,1 miliar terkait kasus ekspor benur.

"Terdakwa Suharjito telah melakukan beberapa perbuatan yang mempunyai hubungan sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai perbuatan berlanjut, yaitu memberi atau menjanjikan sesuatu, yaitu memberi sesuatu berupa uang seluruhnya USD 103 ribu dan Rp 706.055.440 kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara, yaitu kepada Edhy Prabowo selaku Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (Menteri KP-RI)," ujar jaksa KPK Siswandono di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (11/2).

(fas/dhn)