Sidang Kasus Benur, Eks Stafsus Ngaku Diminta Edhy Prabowo Beli Sepeda Rp 168 Juta

Zunita Putri - detikNews
Rabu, 24 Feb 2021 14:41 WIB
Sidang Eks Stafsus Edhy Prabowo Terkait Kasus Suap Benur
Sidang Eks Stafsus Edhy Prabowo Terkait Kasus Suap Benur (Zunita/detikcom)
Jakarta -

Mantan Staf khusus Edhy Prabowo, Safri, mengaku pernah diperintah oleh Edhy Prabowo untuk membeli sepeda sebanyak 8 unit. Safri mengaku total biaya belanja sepeda sebanyak Rp 168,4 juta.

Hal itu diungkapkan Safri dalam sidang Direktur PT Dua Putera Perkasa Pratama (PT DPP), Suharjito, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (24/2/2021). Saat itu jaksa KPK Siswandono mengkonfirmasi terkait penerimaan uang Rp 168,4 juta dari seseorang bernama Ainul Faqih.

"Ya ada itu uang beli sepeda, Pak. Itu untuk Pak Menteri," kata Safri dalam sidang.

Jaksa lantas mengkonfirmasi berita acara pemeriksaan (BAP) Safri terkait perintah Edhy Prabowo yang meminta dibelikan 8 unit sepeda. Sepeda itu akan disimpan di rumah dinas Edhy Prabowo yang saat itu menjabat Menteri Kelautan Perikanan RI.

"BAP 16, sejumlah Rp 168,4 juta dari rekening BNI Ainul Faqih saya belikan sepeda seharga Rp 14 juta per-unit, atas perintah Edhy Prabowo. Saudara Edhy saat itu perintahkan saya membeli sepeda untuk ditaruh di Widya Chandra, lalu sisanya saya beli HP Samsung?" ungkap jaksa dan diamini Safri.

Safri juga mengaku sisa uang pembelian sepeda digunakan dia membeli handphone Samsung. Dia juga melaporkan terkait pembelian sepeda ini ke Edhy.

"Sudah (lapor), Pak. Karena sepedanya ada di rumdin (rumah dinas)," kata Safri.

Diketahui, dalam dakwaan pemberi suap Edhy Prabowo, Suharjito jaksa mengungkapkan daftar belanja mewah Edhy. Salah satunya adalah pembelian sepeda.

"Terdakwa Suharjito telah melakukan beberapa perbuatan yang mempunyai hubungan sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai perbuatan berlanjut, yaitu memberi atau menjanjikan sesuatu yaitu memberi sesuatu berupa uang seluruhnya USD 103 ribu dan Rp 706.055.440 kepada Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara, yaitu kepada Edhy Prabowo selaku Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (Menteri KP-RI)," ujar jaksa KPK Siswandono saat membaca surat dakwaan.

Pembelian sepeda itu disebut dalam dakwaan Suharjito terjadi pada 24 Agustus 2020. Jaksa menyebut sekretaris pribadi Edhy Prabowo, Amiril Mukminin, atas permintaan Edhy Prabowo meminta Ainul Faqih mengirimkan uang kepada Safri sebesar Rp 168,4 juta untuk membeli 8 unit sepeda seharga Rp 14,8 juta per unit atau harga keseluruhan sejumlah Rp 118, 4 juta.

Jaksa menyebut sisanya pembelian sepeda Rp 50 juta. Uang itu digunakan Safri untuk membeli 2 buah handphone Samsung Galaxy Note 20 dan Samsung Flip Z.

Dalam sidang ini, yang duduk sebagai terdakwa adalah Direktur PT Dua Putera Perkasa Pratama (DPPP), Suharjito. Dia didakwa memberi suap ke Edhy Prabowo yang saat itu menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP). Suharjito disebut jaksa memberi suap ke Edhy sebesar Rp 2,1 miliar terkait kasus ekspor benur.

Jaksa menyebut uang suap diberikan ke Edhy melalui Staf Khusus Menteri KKP Safri dan Andrau Misanta Pribadi; lalu sekretaris pribadi Edhy bernama Amiril Mukminin; dan Ainul Faqih selaku staf pribadi istri Edhy Prabowo, Iis Rosita Dewi; serta Komisaris PT Perishable Logistics Indonesia (PT PLI) sekaligus pendiri PT Aero Citra Kargo (PT ACK), Siswadhi Pranoto Loe. Suap diberikan agar Edhy mempercepat perizinan budi daya benih lobster ke PT DPP.

Lihat Video: KPK Sita Vila dan Tanah Milik Edhy Prabowo di Sukabumi

[Gambas:Video 20detik]



(zap/dwia)