Eks Stafsus Edhy Prabowo Akui Terima Rp 277 Juta dari Penyuap Kasus Benur

Zunita Putri - detikNews
Rabu, 24 Feb 2021 14:12 WIB
Sidang Eks Stafsus Edhy Prabowo Terkait Kasus Suap Benur
Sidang Eks Stafsus Edhy Prabowo Terkait Kasus Suap Benur (Zunita/detikcom)
Jakarta -

Mantan Staf khusus Edhy Prabowo, Safri, mengaku menerima uang SGD 26 ribu dari Direktur PT Dua Putera Perkasa Pratama (PT DPP), Suharjito, terkait kasus suap benur. Jika dirupiahkan, uang itu senilai Rp 277.606.053.

"Dia kasih uang ke saya Pak, kalau nggak salah SGD 26 ribu," ujar Safri dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (24/2/2021).

Menurut Safri, Suharjito memberi uang karena usaha izin ekspor lobsternya di Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) lancar. Safri mengaku uang itu dipakai untuk kebutuhan pribadinya.

"Saya pikir dia kasih saya karena usaha lobsternya sudah lancar, dan kasih saja (uang) ke saya. (Uang digunakan kepentingan sendiri) iya," ucap Safri.

Diketahui, dalam dakwaan jaksa KPK, Safri disebut meminta PT DPP memberi uang Rp 5 miliar untuk Edhy Prabowo jika ingin mendapatkan izin budi daya BBL.

"Agus Kurniyawanto dan Ardy Wijaya menemui Safri menanyakan perkembangan perizinan budidaya BBL PT DPP dan mendapatkan jawaban bahwa untuk mendapatkan izin dimaksud, PT DPP harus memberikan uang komitmen kepada Edhy Prabowo melalui Safri sebesar Rp 5 miliar yang dapat diberikan secara bertahap sesuai dengan kemampuan perusahaan. Selanjutnya, Agus dan Ardi Wijaya melaporkan kepada terdakwa di mana Terdakwa menyanggupinya," ungkap jaksa KPK dalam surat dakwaan.

Kemudian, diberikan Suharjito secara bertahap. Pemberian pertama dilakukan pada 16 Juni 2020 di Gedung Mina Bahari V senilai USD 77 ribu melalui Safri kemudian diserahkan ke Amirul Mukminin untuk Edhy Prabowo. Amirul Mukminin merupakan sekretaris pribadi Edhy Prabowo.

Dalam sidang ini, yang duduk sebagai terdakwa adalah Direktur PT Dua Putera Perkasa Pratama (DPPP), Suharjito. Dia didakwa memberi suap ke Edhy Prabowo yang saat itu menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP). Suharjito disebut jaksa memberi suap ke Edhy sebesar Rp 2,1 miliar terkait kasus ekspor benur.

Jaksa menyebut uang suap diberikan ke Edhy melalui staf khusus menteri KKP Safri dan Andrau Misanta Pribadi, lalu Sekretaris Pribadi Edhy bernama Amiril Mukminin, dan Ainul Faqih selaku staf pribadi istri Edhy Prabowo Iis Rosita Dewi, dan Komisaris PT Perishable Logistics Indonesia (PT PLI) sekaligus Pendiri PT Aero Citra Kargo (PT ACK), Siswadhi Pranoto Loe. Suap diberikan agar Edhy mempercepat perizinan budi daya benih lobster ke PT DPP.

(zap/maa)