Wakaf Dinilai Jadi Solusi Ketahanan Pangan di Kala Pandemi

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Selasa, 23 Feb 2021 15:52 WIB
ACT
Foto: ACT
Gunung Putri -

Pandemi COVID-19 belum berakhir. Namun Indonesia sudah dilanda berbagai macam bencana alam, mulai dari gempa, erupsi gunung merapi, banjir, hingga longsor.

Presiden Global Wakaf N. Imam Akbari menilai kondisi ini menjadikan perekonomian RI tak kunjung membaik, bahkan cenderung menurun. Menurutnya, situasi pandemi tidak hanya berdampak pada perekonomian dan kesehatan, melainkan ikut berimbas pada kelangkaan pangan.

"Kelangkaan dalam arti tidak semua orang, tidak semua pihak punya kesempatan, punya kemampuan untuk mengakses pangan," ujar Imam saat menghadiri acara peluncuran Gerakan Sedekah Pangan Nasional, di Gunung Putri, Bogor, pada Selasa (23/2/2021).

Imam memaparkan, berdasarkan data Food Sustainability Index Indonesia menduduki posisi ke-60. Tertinggal jauh di bawah negera-negara yang kerap dinilai kelaparan, seperti Zimbabwe dan Ethiopia.

"Faktanya hari ini dalam Food Sustainability Index dunia Indonesia berada di posisi ke 60 dari 67 negara. Kita berada di posisi yang jauh dari negara-negara di Afrika," terangnya.

Oleh karena itu, Imam menyebut wakaf bisa menjadi salah satu solusi untuk mendorong ketahanan pangan nasional, utamanya di tengah pandemi Corona. Sebab, menurutnya wakaf memainkan peran penting dalam ekosistem kedaulatan pangan RI yang saat ini tengah dibangun.

"Ini adalah momentum kita bangkit dan wakaf adalah solusinya," tuturnya.

"Kita bersama-sama akan menjadikan negeri ini menjadi negeri agraris yang memiliki swasembada pangan. Tidak hanya ketahanan tapi kedaulatan, kemerdekaan pangan. Menjadikan negara kita the most generous country," imbuhnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ibnu Khadjar. Ibnu menyebut, saat ini kebutuhan produksi beras Indonesia mencapai 33 juta ton per tahun. Namun, kemampuan produksi dari 6,7 juta hektare lahan hanya mampu menghasilkan 20 juta ton.

Artinya, masih ada kekurangan sebanyak 13 juta ton setiap tahunnya. Meski demikian, dirinya menilai jika kekurangan ini bisa terpenuhi, apabila semakin banyak tanah yang diwakafkan untuk kemudian bisa ditanami oleh para petani.

Lebih lanjut Ibnu mengatakan, saat ini pihaknya telah bekerja sama dengan Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia atau YP3I, dalam rangka membantu pemenuhan kebutuhan pangan nasional. Harapannya, jika setiap anggota YP31 menyiapkan setidaknya 10 hektare lahan untuk tiga kali tanam, maka dalam setahun Indonesia bisa menyelesaikan 14 juta ton beras tanpa harus impor.

Untuk itu, Ibnu mengajak seluruh kelompok masyarakat untuk ikut bergerak mendorong ketahanan pangan nasional, salah satunya dengan mewakafkan tanah yang dimiliki agar bisa dimanfaatkan oleh para petani.

"Kami sarankan berwakaflah supaya bisa dimanfaatkan oleh saudara-saudara kita para petani supaya tidak harus membayar sewa. Tapi bagi mereka yang punya tanah, kalau mereka mau kelola kita akan jadikan tanah produktif untuk menanam, " pungkasnya.

Untuk diketahui, Global Wakaf bersama ACT baru saja meluncurkan Gerakan Sedekah Pangan Nasional yang dilaksanakan di WDC Gunung Putri. Dalam acara tersebut turut hadir Presiden Global Islamic Philanthropy (GIP) Ketua Dewan Pembina ACT, Ahyudin serta Head of WDC, Pungki M Kusuma.

(ega/ega)