'Camp David' TNI AD Mamuju Punya Fasilitas Kesehatan Lengkap

Erika Dyah Fitriani - detikNews
Senin, 15 Feb 2021 17:29 WIB
RS darurat TNI AD Mamuju
Foto: Dok. Pemkab Mamuju
Jakarta -

Anggota Bidang Perlindungan Tenaga Kesehatan Satgas Penanganan COVID-19 Nasional dr Ani Hasibuan mengapresiasi keberadaan RS Lapangan Angkatan Darat di Kabupaten Mamuju atau disebut Camp David. Meski secara fisik terlihat hanya berupa tenda-tenda, lanjutnya, namun RS ini memiliki standar dan kualitas internasional.

Adapun RS darurat ini dibangun atas instruksi langsung KSAD Jenderal Andika Perkasa dan telah melayani ribuan pasien warga sekitar Mamuju mulai dari penyakit ringan hingga penyakit berat. RS lapangan yang disiapkan oleh TNI AD di Markas Korem 142/Tatag ini berperan besar dalam memberikan pelayanan kepada warga terdampak gempa bumi di Mamuju, Sulawesi Barat.

dr Ani menegaskan fisik rumah sakit lapangan yang dibangun pada tanggal 19 Januari 2021 itu dibuat seperti yang sudah dibangun di New Zealand, Jerman, dan Prancis.

"RS itu memenuhi kebutuhan-kebutuhan terkait emergency di daerah bencana," ujar dr Ani dalam keterangan tertulis, Senin (15/2/2021).

Lebih lanjut ia pun menjelaskan material tenda yang digunakan sangat khusus, dirancang untuk bisa menyerap panas sehingga di dalam tenda sama sekali tidak terasa panas. Selain itu, material tenda juga sangat kuat sehingga tidak mudah robek bila terkena angin kencang.

Tenda ini, lanjutnya, masuk dalam kategori tenda skeleton, berlapis tiga. Bangunan tenda juga didesain khusus sehingga aliran udara mudah keluar masuk dari ruang ke ruang sehingga hawa tetap segar.

"Jadi dibangun rangka, kemudian dibungkus tenda bagian dalam dan terakhir dengan tenda lapis thermal yang dapat menyerap panas, dan menghalau dingin," katanya.

Lebih lanjut, dr Ani merinci RS lapangan ini memiliki daya tampung 100 bed. Selain itu, RS ini memiliki ruang-ruang yang lengkap, seperti ruang operasi yang memenuhi standar, ICU, laboratorium, UGD, ruang konsultasi, bahkan sampai ruang CSSD dan laundry.

Sementara untuk tenaga kesehatan yang bertugas, lanjutnya, RS Lapangan AD ini memiliki dokter syaraf, dokter penyakit dalam, dokter kandungan, dan dokter bedah. Ia menyebutkan setiap harinya ada 140 orang personel yang bekerja di RS ini.

"Ada sekitar 30-an dokter spesialisnya, dokter umum hanya ada 2 orang itu yang bertugas di UGD dan poliklinik. Mereka sudah beroperasi dari tanggal 20 Januari dan direncanakan sampai 20 Maret, berita terakhirnya seperti itu," tuturnya.

dr Ani menambahkan, kunjungan masyarakat yang berobat ke RS Lapangan Markas Korem 142/Tatag cukup banyak. Ia merinci, di awal kedaruratan kebencanaan jumlah pengunjung yang berobat bisa mencapai 400 orang per hari. Sementara saat ini di masa pemulihan jumlah pengunjung yang berobat sekitar 100 orang per hari.

"Kunjungan masyarakat cukup banyak karena memang di RS lapangan ini tidak ada persyaratan administrasi dikarenakan situasinya kedaruratan kebencanaan sehingga tidak perlu membawa kartu BPJS dan lainnya dan tidak dipungut biaya apapun," jelasnya.

dr Ani pun menyampaikan harapannya agar RS Lapangan milik TNI AD ini bisa beroperasi hingga infrastruktur pelayanan kesehatan di wilayah Mamuju sudah pulih. Menurutnya, saat ini memang beberapa RS yang ada di wilayah Mamuju sudah mulai beroperasi. Akan tetapi, ia menilai keberadaan RS Lapangan masih sangat diperlukan. Hal ini lantaran masih banyak masyarakat yang kehilangan berbagai dokumen-dokumen untuk kepentingan berobat.

"Saat ini kan banyak masyarakat yang kehilangan KTP, kartu BPJS, misalnya harus membayar karena tidak mempunyai kartu BPJS tentu itu kesulitan di saat situasi yang masih rekonstruksi pasca bencana seperti ini. Harapan saya ada kebijakan lain," imbuhnya.

Sementara itu, Sekretaris Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Jaya dr Ulul Albab menilai RS Lapangan Angkatan Darat adalah sebuah usaha yang sangat luar biasa dilakukan oleh TNI AD. Dengan mendirikan RS Lapangan, pelayanan darurat khususnya pelayanan kebidanan dan kandungan bisa dilakukan.

"Ibu-ibu melahirkan dengan selamat di lokasi bencana Mamuju. Bayi-bayi mungil generasi penerus bangsa menghirup udara dunia dengan sehat. Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) bisa ditekan. Tidak ada kata terlambat, tidak ada kata tidak bisa, dan tidak ada kata nanti dalam memberikan pertolongan kemanusiaan. Salut dan Jaya TNI AD," ungkap dr Ulul Albab.

Ia pun mengaku tidak membayangkan sebelumnya ada pasien yang melahirkan bahkan operasi di dalam tenda.

"Siapapun pasti tidak akan pernah membayangkan, tetapi tidak ada kata tidak mungkin jika dalam kondisi darurat lantaran bencana dan di tengah kondisi wabah COVID-19 yang melanda," imbuhnya.

(akn/ega)