Blak-blakan Permadi Arya

Abu Janda Yakin Polisi Tak Bisa Dijadikan Alat Dendam Politik

Sudrajat - detikNews
Minggu, 07 Feb 2021 07:34 WIB
Jakarta -


Pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda yakin dirinya tak akan sampai terkena jerat pidana. Asalkan tidak ada gerakan politik yang massif untuk memframing dirinya agar masuk penjara.

Optimismenya itu khusus terkait pelaporan oleh pengurus KNPI terkait kata 'evolusi'terhadap Natalius Pigai. Sebab kata tersebut bersifat multitafsir, dan tidak dimaksudkan sebagai sikap rasis terhadap mantan anggota Komnas HAM.

Abu Janda balik menuding Ketua Umum KNPI Haris Pertama punya dendam politik terhadap dirinya. Sebab dia kerap mengkritisi FPI dan Imam Besarnya, M Rizieq Shihab, sedangkan Haris justru dianggapnya menjadi pembela ormas tersebut.

"Dia sakit hati karena FPI dibubarkan pemerintah. Tapi aku yakin polisi gak akan bisa dijadikan alat untuk dendam politik," kata Abu Janda kepada tim Blak-blakan, Jumat pekan lalu.

Berkaca dari pengalaman sebelumnya, dia melanjutkan, banyak pihak sengaja suka mempolisikan dirinya meski mereka tahu objek tuduhannya sumir. Tujuannya justru untuk membuat framing bahwa polisi tebang pilih.

Dari pemberitaan detikcom, pada pertengahan November 2018, dia pernah dilaporkan Muhammad Alatas dari Majelis Al Munawir ke Polda Metro Jaya karena menyebut bendera di rumah Rizieq Shihab di Saudi adalah bendera Teroris. Pada 10 Desember 2019, giliran Ikatan Advokat Muslim Indonesia melaporkan Abu Janda terkait pernyataan, "Teroris punya agama dan agamanya adalah Islam."

Soni Eranata alias Maheer Athualibi yang kini meringkuk ditahanan Bareskrim, pada awal Juni 2020, pernah mempolisikan Abu Janda dengan tuduhan menista agama dan pencemaran nama baik Tapi semua tuduhan tersebut tak berlanjut ke pengadilan.

Selain soal tuduhan rasis, Abu Janda kali ini juga dipolisikan terkait frase 'Islam Arogan'. Terkait hal ini, dia menjelaskan bahwa yang dimaksudnya adalah kelompok Islam berfaham Wahabi dan Salafi. Sebab merekalah yang dalam beberapa waktu terakhir kerap mengharamkan atau mengkafirkan sesuatu. Sikap mereka berbeda dengan Islam Nusantara yang diperkanalkan oleh Wali Songo.

(jat/jat)