Saksi Sebut Hiendra Soenjoto Sempat Ingin Perkarakan Nurhadi Gegara Ini

Luqman Nurhadi Arunanta - detikNews
Jumat, 05 Feb 2021 18:11 WIB
Sidang di PN Tipikor (Luqman Nurhadi Arunanta/detikcom).
Foto: Sidang di PN Tipikor (Luqman Nurhadi Arunanta/detikcom).
Jakarta -

Saksi yang dihadirkan jaksa KPK, Iwan Cendikia Liman, mengatakan Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT), Hiendra Soenjoto, pernah sempat ingin memperkarakan mantan Sekretaris MA, Nurhadi. Hal itu dilakukan Hiendra, sebut Iwan, karena Nurhadi tak kunjung membereskan kasus yang dia pegang.

Kesaksian itu disampaikan Iwan dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Jumat (5/2/2021). Iwan adalah saksi berlatar belakang swasta seperti diperkenalkan dalam sidang. Awalnya, jaksa menanyakan Iwan soal BAP-nya nomor 10.

"Saya bacakan BAP nomor 10 menjelaskan di halaman 9. Dengan alasan Hiendra hendak memperkarakan Nurhadi akibat pencairan cek yang gagal dan belum selesainya pengurusan perkara hukum MIT oleh Nurhadi maka atas sisa cek yang belum saya cairkan telah ditarik kembali Rezky melalui Cahyadi Gunawan dan Hanjaya Adikarjo pada tanggal 12 Mei 2016," ujar jaksa.

Iwan menyebut dia diberi tahu Rezky Herbiyono bahwa Hiendra hendak memperkarakan Nurhadi. Hal itu disampaikan 12 Mei 2016 saat dia hendak mencairkan cek Rp 10 miliar untuk kedua kalinya.

Iwan menyebut, akibat pencairan ceknyang gagal, perusahaan Hiendra terancam kena blacklist. Maka dari itu, timbul niat Hiendra memperkarakan Nurhadi karena sudah banyak uang yang dia keluarkan tetapi perkaranya tak kunjung beres.

"Itu yang menyampaikan kepada saya Rezky Herbiyono, karena Hiendra Soenjoto langsung mendamprat Rezky Herbiyono akibat cek tersebut dicairkan, Rezky berkata kepada saya bahwa Nurhadi bakal diperkarakan kalau cek ini sampai bikin company-nya blacklist, kalau cek ada Rp 10,8 atau Rp 10,5 miliar mengalami penolakan dan kurun waktu 1 minggu tidak pernah diisi atau di-recovery otomatis company MIT blacklist," ujar Iwan dalam persidangan.

Jaksa kemudian menanyakan soal kelanjutan apakah Hiendra jadi memperkarakan Nurhadi. Namun, Iwan mengaku tidak tahu.

"Faktanya apakah Hiendra memperkarakan Nurhadi?" tanya jaksa.

"Saya tidak tahu," jawab Iwan.

Dalam sidang ini, Hiendra Soenjoto didakwa memberi suap kepada Nurhadi sebesar Rp 45,7 miliar. Suap diberikan agar Nurhadi mengurus perkara Hiendra tingkat Pengadilan Negeri hingga MA.

Jaksa mengatakan Nurhadi menerima uang dari Hiendra melalui menantunya, Rezky Herbiyono. Suap diberikan agar Nurhadi mengurus perkara gugatan Hiendra melawan PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) dan gugatan melawan Azhar Umar.

Atas dasar itu, Hiendra didakwa melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 13 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

PN Jakarta Utara dalam putusannya menolak gugatan PT MIT sehingga PT MIT meminta banding ke PT DKI Jakarta, begitu upaya hukum PK juga ditolak.

Simak juga video 'Saksi Ungkap Aliran Uang ke Rekening Menantu Nurhadi':

[Gambas:Video 20detik]



(gbr/gbr)