ACT Ajak Masyarakat Bantu Warga Palestina Lewat Sedekah & Wakaf

Inkana Putri - detikNews
Rabu, 03 Feb 2021 23:05 WIB
ACT
Foto: act
Jakarta -

Dampak pandemi COVID-19 membuat kondisi ekonomi Gaza, Palestina di tahun 2021 semakin terpuruk. Euro-Mediterranean, Human Rights Monitor melaporkan pada 24 Januari lalu, Gaza tidak lagi bisa hidup pasca lebih dari 15 tahun hidup dalam kurungan blokade Zionis.

Laporan tersebut juga melaporkan tingkat angka pengangguran dan kemiskinan di Gaza terus meningkat. Tim Global Humanity Response - ACT, Said Mukaffiy juga mengatakan mayoritas keluarga di Gaza tidak memiliki rumah karena kesulitan membayar uang sewa untuk tempat tinggal.

"Rasio angka kemiskinan di Gaza lebih dari 60 persen. Sekitar 31 persennya tidak memiliki rumah, mereka hidup di tenda atau rumah-rumah bedeng. Mereka adalah keluarga miskin yang selama ini tidak dapat membayar uang sewa apa pun untuk tempat tinggal," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (3/2/2021).

Melihat urgensi ini, ACT menghadirkan program untuk membantu warga Gaza, salah satunya melalui program 'Keluarga Asuh Indonesia-Palestina'. Melalui program ini, ACT mengajak masyarakat Indonesia membantu kebutuhan dasar keluarga prasejahtera di Palestina.

"Keluarga Asuh Indonesia-Palestina merupakan program orang tua asuh yang akan ikut merawat anak-anak para korban serangan atau pun konflik di Palestina. Program ini akan melibatkan sekitar 230 kepala keluarga," paparnya.

Said berharap program ini dapat membantu masyarakat Gaza, serta meningkatkan taraf hidup keluarga prasejahtera di sana.

"Misi program ini adalah menjalin silaturahmi antara dermawan dan penerima manfaat. Semoga sahabat dermawan dapat mendukung langkah kami ini," katanya.

Lebih lanjut Said menjelaskan tahun ini ACT juga mengimplementasikan berbagai program, yakni Wakaf Rumah Palestina, Wakaf UMKM Palestina, dan Gaza Waqf Distribution Center. Lewat program ini, pihaknya mengajak seluruh dermawan di Indonesia untuk ikut membantu warga Palestina melalui wakaf.

"Sebagai sebuah program unggulan yang akan menjangkau puluhan ribu orang di Gaza, tidak bosan kami mengajak seluruh Sahabat Dermawan untuk berkontribusi menghadirkan bantuan untuk warga Palestina melalui berbagai program dengan wakaf tunai terbaik Anda. Mari terus dampingi perjuangan Palestina, terus kirimkan bantuan terbaik untuk mereka dengan wakaf terbaik kita di www.indonesiadermawan.id/wakafpalestina," jelasnya.

Di samping berbagai program tersebut, ACT turut mengunjungi para warga Gaza yang membutuhkan bantuan seperti halnya Faten Alhawy dan Mohammed Alhawy pada akhir akhir Oktober 2020 lalu

Dalam kunjungan tersebut, Faten mengatakan sering kali khawatir dengan musim dingin karena tak punya cukup pakaian. Ditambah, keduanya hanya tinggal di dalam bangunan berdinding bata yang ditambal seng dan jerami, serta berlantai pasir

"Kami khawatir dengan musim dingin, sebab kami tidak memiliki cukup pakaian, kasur, bahkan selimut,"

"Ini kasur satu-satunya yang kami punya," imbuhnya.

Selain tempat tinggal, lapangan pekerjaan juga menjadi masalah lain yang dihadapi warga Gaza. Mohammed yang menderita sakit neurologi mengatakan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan di Gaza.

Mohammed mengatakan minimnya lapangan pekerjaan membuat ia dan keluarga kesulitan memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Apalagi, 7.000 truk bantuan kemanusiaan yang setiap tahun memasuki Gaza, hingga saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan warga Gaza yang jumlahnya terus meningkat setiap tahun.

"Kami tidak memiliki apa-apa, bahkan makanan. Kami tidak tahu bagaimana memberikan seragam sekolah kepada anak-anak, sekolah sebentar lagi dibuka. Bahkan, kami tidak bisa memberi mereka jajan. Apakah ini pantas disebut hidup?," ungkapnya.

Terkait kondisi ini, Mohammed pun berharap agar organisasi kemanusiaan dunia dapat menolong warga Gaza.

"Kami memohon bantuan kepada orang-orang baik hati untuk menolong kami dan anak-anak ini," harapnya.

Kasus pengangguran memang menjadi salah satu penyebab kemiskinan keluarga di Gaza. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik Palestina, tingkat pengangguran di Gaza meningkat 3,6 persen pada kuartal kedua tahun 2020, yakni 49,1 persen. Angka tersebut menunjukkan sekitar 42.900 orang di Gaza kehilangan sumber pendapatan sejak akhir Maret 2020.

Selain keluarga Alhawy, kondisi yang sama juga dirasakan oleh warga Gaza lainnya, Ayda. Ia menceritakan rumah mayoritas masyarakat sipil di Gaza cenderung tak layak huni. Pasalnya, Ayda menyebut air kerap masuk ke dalam rumah melalui celah atap hingga membasahi kasur.

Saat air masuk, Ayda mengatakan ia dan keluarga tidak dapat tidur di kasur dengan layak karena butuh waktu seminggu agar kasur kering. Saat musim panas, Ayda juga mengaku harus menahan suhu panas di rumah asbes miliknya.

"Kami langsung lari membuat penghalang dari pasir agar air tidak masuk ke dalam rumah," ungkapnya.

Sebagai informasi, ACT memiliki beberapa program untuk membantu masyarakat Palestina. Adapun program akan diimplementasikan pada tahun 2021 yaitu Keluarga Asuh Indonesia-Palestina, Wakaf Rumah Palestina, Wakaf UMKM Palestina, dan Gaza Waqf Distribution Center.

Wakaf Rumah Palestina merupakan program yang menghadirkan hunian layak bagi ribuan keluarga prasejahtera di Palestina. Di samping itu, ada pula Wakaf UMKM Palestina yang meliputi program Gerobak Wakaf, Warung Wakaf, dan Wakaf Pertanian dan Perkebunan. ACT juga memiliki Warung Wakaf untuk membantu warga Gaza yang memiliki usaha kecil ritel warung atau toko kecil, serta Gaza Waqf Distribution Center untuk membantu para keluarga prasejahtera terdampak pandemi virus Corona dan keluarga yang terpinggirkan.

(ega/ega)