Disidang Gegara Orang Lain Salah Beri Obat, 2 Pegawai Apotek di Medan Bebas

Datuk Haris Molana - detikNews
Rabu, 03 Feb 2021 11:51 WIB
Ilustrasi Palu Hakim
Ilustrasi palu hakim (Foto: Ari Saputra-detikcom)
Medan -

Dua orang pegawai apotek di Medan, Okta Rina Sari dan Sukma Rizkiyanti Hasibuan, divonis bebas oleh majelis hakim. Keduanya sempat didakwa dan dituntut 2 tahun penjara karena dinilai salah memberi obat hingga mengakibatkan seorang dirawat di rumah sakit.

Dilihat dari situs SIPP PN Medan, Rabu (3/2/2021), keduanya mulai menjalani sidang pada Agustus 2020. Keduanya didakwa melanggar Pasal 360 ayat (1) atau ayat (2) KUHP.

Dalam dakwaannya, jaksa menyebut kasus ini berawal pada 6 November 2018. Saat itu, warga yang belakangan menjadi korban salah obat, Yusmaniar datang ke praktik dokter Tengku Abraham. Yusmaniar datang bersama Freddy Harry.

Setelah menerima resep dari dokter tersebut, Yusmaniar dan Freddy mendatangi Apokek Istana 1 di Jalan Iskandar Muda, Medan, untuk membeli dan menebus resep sesuai yang diberikan dokter tersebut. Setelah mendapat obat, Yusmaniar dan Freddy pulang.

"Saksi korban Yusmaniar meminum obat tersebut dan pada tanggal 13 Desember 2018 kondisi saksi korban Yusmaniar masih kurang sehat kemudian saksi korban Yusmaniar menyuruh Freddy untuk membeli obat di Apotek Istana 1 dengan resep yang sama pada tanggal 6 November 2018," ujar jaksa.

Setelah membeli obat, Freedy pulang dan menyerahkan obat ke Yusmaniar. Jaksa mengatakan Yusmaniar meminum obat yang dibeli Freddy dan mengalami sakit 3 hari kemudian.

"Lalu saksi korban Yusmaniar berobat ke rumah sakit umum Materna di Jalan Teuku Umar Medan Petisah dari pihak rumah sakit memberikan obat setelah sampai di rumah saksi korban Yusmaniar meminum obat tersebut dan tidak berapa lama saksi korban Yusmaniar tidak sadarkan diri sehingga saksi korban Yusmaniar dibawa ke rumah sakit Royal Prima dan masuk ke dalam ruang ICU untuk perawatan," ucap jaksa.

Namun, Yusmaniar dipindah ke RS Materna karena ruang ICU di RS Royal Prima penuh. Pihak RS kemudian meminta keluarga membawa obat-obatan yang dikonsumsi oleh Yusmaniar.

"Pihak rumah sakit umum menyimpulkan bahwa penyebab saksi korban Yusmaniar kondisi tidak sadarkan diri karena meminum obat yang tidak dideritanya obat yang dibeli dan diberikan oleh pihak Apotek Istana 1 ada yang tidak sesuai selanjutnya saksi Fitri Octavia Pulungan Noya menghubungi dokter Tengku Abraham untuk menanyakan lima jenis obat, yaitu Diovan, NA Diclofenac, Osteocal, Amaryl M2 dan Betason-N Cream," ujar jaksa.

Dokter tersebut kemudian menjelaskan nama-nama obat yang dituliskan pada resep yang diberinya. Dari keterangan dokter tersebut, ada obat yang tidak sesuai dengan tulisannya yang diberikan Apotek Istana 1, yakni Amaryl M2.

"Sedangkan dokter Tengku Abraham memberikan resep yang tulis dengan jelas dan lengkap Methyl Prednisolon kepada saksi korban Yusmaniar sehingga saksi korban Yusmaniar mengalami penurunan kesadaran, kejang, muntah, sesak," ujar jaksa.

Singkat cerita, kasus ini masuk ke ranah hukum dan kedua apoteker itu disidang. Jaksa kemudian menuntut keduanya dihukum 2 tahun penjara. Menurut jaksa, keduanya bersalah melanggar Pasal 360 ayat (1) Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Lalu, apa keputusan hakim? Simak di halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2