PNS Tajir Rohadi Juga Didakwa Terima Gratifikasi Rp 11,5 M, Ini Rinciannya

Zunita Putri - detikNews
Senin, 01 Feb 2021 21:39 WIB
Rohadi kembali bernyanyi. Kali ini jaksa yang pernah menangani perkara pencabulan yang menjerat Saipul Jamil menjadi sasaran Rohadi.
Rohadi (Foto: dok detikcom)
Jakarta -

Jaksa KPK juga mendakwa PNS tajir Rohadi menerima gratifikasi. Gratifikasi yang diterima Rohadi senilai Rp 11,5 miliar.

"Terdakwa telah melakukan serangkaian perbuatan yang masing-masing dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan, selaku pegawai negeri atau penyelenggara negara menerima gratifikasi, berupa uang-uang yang ditransfer pihak lain dengan jumlahnya sebesar Rp 11.518.850.000," kata jaksa Kresno Anto Wibowo di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (1/2/2021).

Jaksa menyebut penerimaan gratifikasi ini dilakukan Rohadi sejak Mei 2001 saat menjabat panitera pengganti di PN Jakarta Utara. Pada tahun 2011 Rohadi sempat dimutasi menjadi panitera pengganti di Pengadilan Negeri Bekasi, namun pada tahun 2014 Terdakwa ditugaskan kembali menjadi panitera pengganti di Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

"Terdakwa dalam jabatannya selaku Panitera Pengganti di Pengadilan Negeri Jakarta Utara maupun saat bertugas selaku Panitera Pengganti di Pengadilan Negeri Bekasi, telah menerima sejumlah uang dari pihak lain yang merupakan gratifikasi karena pemberian tersebut terkait dengan 'pengurusan' perkara, ataupun masih terkait dengan proses persidangan, maupun diberikan karena berhubungan dengan jabatan Terdakwa. Penerimaan gratifikasi berupa uang tersebut dengan cara ditransfer ke rekening pribadi Terdakwa," ungkap jaksa Takdir.

Berikut rincian gratifikasi yang diterima Rohadi:

1. Pemberian dari Aloy Rachmat diterima via transfer sejak bulan April 2008 hingga bulan April 2011, dengan jumlah total sebesar Rp 27.950.000;

2. Pemberian dari Bambang Soegiharto, diterima via transfer sejak bulan Februari 2010 hingga bulan Juni 2016, dengan jumlah total sebesar Rp 2.008.000.000;

3. Pemberian dari Teddy Wijaya, diterima via transfer sejak bulan April 2014 hingga bulan April 2016, dengan jumlah total sebesar Rp 1.074.400.000;

4. Pemberian dari Suli Wiranta Lee, diterima via transfer sejak bulan Agustus 2011 hingga bulan Maret 2014, dengan jumlah total sebesar Rp.95.000.000. Selain itu ada juga pemberian dari Liong Kim Fong (orang tua Suli) yang diterima via transfer dengan jumlah total sebesar Rp 22.000.000;

5. Pemberian dari Syarman, diterima via transfer sejak bulan Januari 2013 hingga bulan Mei 2016, dengan jumlah total sebesar Rp 287.000.000;

6. Pemberian dari Danu Ariyanto, diterima via transfer sejak bulan Februari 2009 hingga bulan Mei 2015, dengan jumlah total sebesar Rp 130.000.000;

7. Pemberian dari Otto de Ruitter, diterima via transfer pada tanggal 28 Juli 2011 sebesar Rp 25.000.000;

8. Pemberian dari Zuhro Nurindahwati, diterima via transfer pada tanggal 13 Juli 2013 sebesar sebesar Rp 10.000.000;

9. Pemberian dari Nino Sukarna, diterima via transfer pada tanggal 21 Agustus 2007 sebesar Rp 11.000.000;

10. Pemberian dari Iwan Muliana Samosir, diterima via transfer sejak bulan September 2008 hingga bulan Maret 2015, dengan jumlah total sebesar Rp 435.500.000;

11. Pemberian dari Suardi, diterima via transfer sejak bulan Agustus 2009 hingga bulan Februari 2012, dengan jumlah total sebesar Rp 95.000.000. Selain itu ada juga pemberian dari Angelien Kho (diperintahkan oleh Suardi), yang ditransfer sejak bulan Mei 2010 hingga bulan Oktober 2013 dengan jumlah total sebesar Rp 63.500.000, dan pemberian dari Vinita Selaa (juga diperintahkan oleh Suardi), yang ditransfer pada bulan September-Oktober 2011 dengan jumlah total sebesar Rp 9.000.000;

12. Pemberian dari Koandi Susanto, diterima via transfer pada akhir tahun 2006 dengan jumlah total sebesar Rp 38.000.000;

13. Pemberian dari Siman Tanoto, diterima via transfer pada tanggal 25 Februari 2010 sebesar Rp 5.000.000;

14. Pemberian dari Iman Sjahputra, diterima via transfer sejak bulan November 2005 hingga bulan Mei 2010, dengan jumlah total sebesar Rp.76.600.000;

15. Selain itu terdapat pemberian-pemberian pihak lainnya yang diterima di rekening Terdakwa via transfer sejak tahun 2006 hingga bulan Juni 2016, dengan jumlah total sebesar Rp 7.131.400.000;

Jaksa mengatakan uang Rp 11,5 miliar itu dalam kurun waktu November 2005 hingga Juni 2016 di rekening pribadi Terdakwa yang merupakan gratifikasi tersebut tidak pernah dilaporkan kepada KPK dalam tenggang waktu 30 hari kerja.

Atas gratifikasi ini, Rohadi didakwa melanggar Pasal 12 B ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.

(zap/jbr)