Buah Perjuangan Mahasiswi Yatim-Piatu di USU: Lulus-Dapat Motor dari Rektor

Ahmad Arfah Fansuri Lubis - detikNews
Senin, 01 Feb 2021 20:05 WIB
Mahasiswi yatim-piatu di USU dapat kado dari Rektor USU usai sidang (dok. Istimewa)
Foto: Mahasiswi yatim-piatu di USU dapat kado dari Rektor USU usai sidang (dok. Istimewa)

Syafruddin sempat salah sangka terhadap Nurul. Sebab, ada mata kuliah dari mahasiswinya tersebut yang tidak lulus.

"Nurul ini kan mahasiswi saya. Jadi, dia ada beberapa mata kuliah yang diambil sama saya. Waktu berlalu, mata kuliah ada yang tidak lulus. Saya berpatokan pada peraturan juga, kalau tidak ikut UTS atau segala macam, kan ada sanksinya. Jadi, itu di luar pengetahuan saya kalau dia nggak kuliah itu karena kekurangan ongkos atau apa. Waktu itu saya nggak tahu," ujar Syafruddin kepada detikcom, Jumat (29/1).

Waktu berjalan, Syafruddin berjumpa dengan Nurul. Mahasiswinya itu meminta ujian khusus dengannya.

"Saya jumpa sama dia, dia bilang, 'Saya mau ujian khusus sama Bapak', ada beberapa gitu kan. Karena sudah bimbingan skripsi segala macam, tapi persyaratannya mesti ada perbaikan dulu baru nanti sidang begitu. 'Oke baiklah' saya bilang gitu kan, dengan waktu yang disepakati, untuk mata kuliah saya, 'buat saja tugas, ini topiknya. Nanti, kalau telah selesai hubungi Bapak'," kata Syafruddin.

Nurul kemudian mengerjakan tugas dan diminta menyerahkan tugas itu ke kampus pada Senin (18/1). Namun, Syafruddin yang lama menunggu tidak kunjung ditemui oleh Nurul. Syafruddin memutuskan pulang saat waktu beranjak sore.

Sesaat di jalan pulang, Syafruddin dikabari oleh Nurul. Dia meminta maaf karena tidak bisa menyerahkan tugas di kampus. Nurul pun meminta alamat Syafruddin untuk menyerahkan tugas yang sudah diselesaikannya.

Syafruddin mengaku sempat menyangka Nurul mencari-cari alasan. Dia pun memilih istirahat sembari kelamaan menunggu Nurul. Beberapa saat kemudian Syafruddin dibangunkan istrinya karena ada mahasiswi datang dengan mengendarai sepeda. Syafruddin kaget.

"Ini naik sepeda ini dari mana? Nurul mengaku dari rumahnya dari Medan Tembung. Jadi, hanya untuk nyerahkan tugas ini? Iya, Pak," ujar Syafruddin.

Saat itulah dia mengetahui Nurul merupakan yatim-piatu sejak sekolah. Nurul mengaku tinggal bersama kakak dan abangnya dan kondisi ekonomi kakak-abangnya tidak mendukung kuliahnya. Nurul mengaku tak bisa pergi ke kampus saat tak punya uang.

Untuk menutupi kebutuhannya, Nurul mencari penghasilan dengan mengajar mengaji anak-anak. Honor dari situlah yang jadi ongkos untuk berkuliah. Kini, perjuangan Nurul berbuah manis.

Halaman

(haf/haf)