dr Reisa: 500 Ribu Lebih Nakes Divaksinasi COVID, Mereka Antusias

Tim detikcom - detikNews
Senin, 01 Feb 2021 17:59 WIB
Ribuan tenaga kesehatan (nakes) menjalani vaksinasi COVID-19 di Surabaya. Ada 4 ribu lebih nakes yang disuntik vaksin COVID-19.
Ribuan tenaga kesehatan (nakes) menjalani vaksinasi COVID-19 di Surabaya. (Zabur Karuru/Antara Foto)
Jakarta -

Tenaga kesehatan (nakes) menjadi prioritas penerima vaksin COVID-19. Saat ini dilaporkan sudah lebih dari 500 ribu nakes yang divaksinasi COVID-19.

"Hari ini sudah lebih dari 500 ribu nakes divaksinasi COVID-19. Antusiasme mereka terlihat jelas di berbagai provinsi, kabupaten/kota. Contoh di Jawa Tengah terlihat progresif vaksinasinya. Kemudian disusul oleh beberapa kabupaten/kota di Kalimantan, dan ini dapat jadi penyemangat bagi semua tenaga kesehatan untuk melaksanakan vaksinasi," kata juru bicara Satgas Penanganan COVID-19, dr Reisa Broto Asmoro, seperti disiarkan YouTube Sekretariat Presiden, Senin (1/2/2021).

Dilihat di situs Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per hari ini tercatat vaksinasi-1 diikuti 539.532 orang dan vaksinasi-2 diikuti 35.406 orang. Total nakes yang akan divaksinasi 1.531.072 orang. Sementara total sasaran vaksinasi ada 181.554.465 orang.

Reisa menyinggung soal usul Menteri Dalam Negeri (Mendagri) soal pemberian insentif kepada daerah yang berprestasi menjalankan program vaksinasi COVID-19. Namun, di luar itu, dia menyebut program vaksinasi COVID-19 sangat bermanfaat bagi para tenaga kesehatan.

"Meski Mendagri sudah menyebutkan usulan insentif bagi daerah ini ditambah dengan adanya inisiatif reward, penghargaan berupa SKP, namun insentif terbesar bagi daerah ini adalah melindungi tenaga kerja nakes yang mereka miliki. Mereka melindungi SDM berkualitas mereka yang selama ini menjaga bahkan menaikkan indeks pembangunan di kabupaten/kota," tuturnya.

Dia lalu menjelaskan soal proses kerja vaksinasi COVID-19. Reisa juga menjelaskan alasan soal vaksinasi COVID-19 dilakukan dua kali.

Dia mengatakan vaksinasi COVID-19 perlu dilakukan dua kali untuk menimbulkan imunitas di dalam tubuh.

"Bagi mereka yang baru menerima dosis pertama, tentu kita harus memastikan imunitas diri kita baru muncul setelah peningkatan melalui dosis kedua. Karena itu kita wajib melakukan penyuntikan dosis kedua untuk menghasilkan kekebalan maksimal tubuh kita untuk melawan COVID-19," kata dia.

Pemberian dosis pertama perlu ada jeda minimal dua pekan sehingga bagi tenaga kesehatan yang berhalangan untuk menerima dosis kedua pada hari ke-14 bisa dilakukan di hari lain.

"Kenapa harus ada jeda? Karena dosis pertama adalah priming dose atau dosis pengenalan imunologis. Jadi tubuh kita dikenalkan dulu dengan inactivated virus yang dimasukkan ke tubuh kita. Lalu dia akan bekerja sama membangun sistem antibodi," kata dia.

"Sedangkan dosis kedua dikenal sebagai boosting dose atau dosis tambahan, gunanya meningkatkan kekuatan vaksin sehingga membuat antibodi yang terbentuk makin kuat dan optimal," tambah Reisa.

Meski demikian, Reisa kembali mengingatkan masyarakat untuk tetap berdisiplin menerapkan protokol kesehatan dalam upaya mencegah penularan COVID-19.

(jbr/imk)