Pasutri Mengadu ke Polda Sumut karena Merasa Dituduh Curi HP

Datuk Haris Molana - detikNews
Sabtu, 30 Jan 2021 19:11 WIB
Gedung Polda Sumut (Ahmad Arfah-detikcom)
Gedung Polda Sumut (Ahmad Arfah/detikcom)
Medan -

Pasangan suami-istri (pasutri) di Deli Serdang dilaporkan ke polisi karena dituduh mencuri ponsel (handphone/HP). Namun pasutri ini sendiri mengaku hendak mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya.

Pasutri itu bernama Muhammad Fajar dan Siti Nuraisyah. Mereka sempat ditahan dan diduga juga dimintai sejumlah uang untuk berdamai.

"Dalam hal ini kami sebagai kuasa hukum korban telah melakukan upaya hukum ke Propam Polda Sumut dan Kapoldasu (Kapolda Sumatera Utara). Selain itu, kami juga telah mengirimkan tembusannya kepada Bapak Kapolri Listyo Sigit Prabowo," kata kuasa hukum Fajar-Siti, Roni Prima Panggabean, saat dimintai konfirmasi, Sabtu (30/1/2021).

Pengacara memberikan penjelasan yang membela kliennya: pasutri tersebut bukan mencuri ponsel, namun menemukan ponsel di suatu tempat dan hendak mengembalikan kepada pemiliknya. Namun pasutri itu malah langsung dicokok.

"Yang menjadi pertanyaan kami kepada Kapolsek Tanjung Morawa, apa yang menjadi dasar hukum Polsek Tanjung Morawa menetapkan sepasang suami-istri yang dari awal sudah mau niat mengembalikan HP yang ditemukan dan ketika mengembalikan malah langsung ditangkap, ditahan, dan ditetapkan menjadi tersangka, padahal HP tersebut ditemukan," kata Roni.

Roni bercerita, awalnya Pada 26 Desember 2020, Nuraisyah dan suaminya sedang belanja di Plaza Suzuya, Tanjung Morawa. Mereka menemukan satu unit ponsel di tumpukan baju dan celana. Ponsel itu kemudian diambil, lalu mereka menunggu apakah ponsel tersebut ada panggilan masuk.

"Namun, hingga tanggal 30 Desember 2020, melalui teman dari suami klien kami yang bernama Ghifari, ada seorang wanita yang menghubunginya untuk mencari alamat klien kami. Wanita itu mengatakan bahwa klien kami ada kasus pencurian HP di Suzuya. Berdasarkan informasi itu, klien kami menghubungi wanita tersebut. Dia menanyakan perihal pemilik HP tersebut dan wanita itu mengaku bukan pemilik dari HP tersebut. Wanita itu pun memberikan nomor HP seseorang. Kemudian, klien kami menghubungi nomor yang diberikan oleh wanita itu berkali-kali. Pada malamnya sempat diangkat dan meminta HP tersebut agar diantar ke Limau Manis. Namun klien kami meminta agar HP itu dijemput ke rumahnya di Patumbak. Namun bapak yang mengaku pemilik HP tersebut menjawab dengan nada ketus," ujar Roni.

Kemudian, pada Selasa (5/1), atas kesepakatan dengan pria yang mengaku pemilik HP itu, mereka berjumpa di Polsek Tanjung Morawa. Namun, sesampainya di sana, pasutri itu malah langsung ditahan.

"Namun klien kami bersama suaminya langsung ditahan di Polsek Tanjung Morawa serta memaksa klien kami dan suaminya mengakui sebagai pencuri," sebut Roni.

Roni menyebut kliennya itu menerima dua surat perintah penangkapan. Kliennya itu pun dijadikan tersangka atas tuduhan telah melakukan tindak pidana pencurian dan/atau pencurian dengan pemberatan.

"Kemudian, setelah dilakukan penahanan, klien kami dipertemukan dengan pelapor, dan membicarakan untuk 'adanya komunikasi perdamaian'. Namun terlapor mengatakan untuk uang perdamaian pelapor meminta Rp 20 juta dan uang cabut laporan Rp 15 juta. Dalam hal ini patut diduga ada skenario pungli oleh oknum Polsek Tanjung Morawa untuk menjerat klien kami yang sudah nyata-nyata dengan niat baik mengembalikan HP tersebut namun klien kami dijebak dan langsung ditangkap dan ditahan atas tuduhan tidak berdasar sesuai dengan fakta hukum," ujar Roni.

Selanjutnya, pihak pasutri menyampaikan permintaan kepada Kapolda Sumut: