Round-Up

Klaim Transaksi di Pasar Muamalah Pakai Dinar Sekadar Istilah

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 29 Jan 2021 21:44 WIB
Pasar Muamalah yang berada di kawasan Depok ramai jadi perbincangan di media sosial. Dalam informasi itu disebutkan pasar ini tidak menggunakan mata uang Rupiah sebagai alat pembayaran, melainkan menggunakan mata uang Dinar dan Dirham.
Foto: 20detik
Jakarta -

Sebuah pasar Muamalah di wilayah Tanah Baru, Depok, Jawa Barat, viral di media sosial karena melayani jual-beli menggunakan uang asing dinar dan dirham, bukan rupiah. Pemilik ruko membantah adanya transaksi dengan mata uang asing.

Pemilik ruko, Zaim, mengatakan penggunaan dinar dan dirham tersebut hanya istilah. Dia menuturkan hal ini dilakukan untuk memperkenalkan alat tukar sunah diadakan oleh Nabi.

"Nah, yang ketiga, kita memang di dalam alat tukar itu, kita memperkenalkan alat tukar sunah yang diadakan oleh Nabi SAW, yaitu koin emas, koin perak, dan koin tembaga. Nah, jadi koin kita itu bukan dinar dan dirham namanya. Itu ngawur, itu orang nggak paham. Dikiranya itu adalah dinar Irak, atau dirham Kuwait, atau dirham Maroko, makanya dikaitkan dengan Undang-Undang Mata Uang," kata Zaim saat dihubungi, Jumat (29/1/2021).

"Kita nggak ada urusan sama mata uang. Malah kita usir kalau ada yang bawa uang Kuwait atau uang dari Maroko atau dari Irak, haram itu di tempat kita. Ya kan, pakai kertas asing dibawa-bawa ke pasar," lanjutnya.

Zaim menjelaskan Pasar Muamalah di Jalan Tanah Baru, Beji, Depok, telah berdiri selama 15 tahun. Dia mengatakan dinar dan dirham merupakan istilah untuk menunjukkan satuan berat.

"Nah, jadi adapun istilah dinar dan dirham, itu adalah satuan berat, sama dengan gram. Kalau kita orang modern menyebutnya gram. Di dalam sunah, satuan berat itu disebut mitsqal untuk emas atau kirab untuk perak. Nah, 1 mitsqal itu disebut 1 dinar. Empat belas kirab disebut 1 dirham, makanya di koin kita itu disebut koin emas dinar. Maknanya adalah itu emas seberat 4 1/4 gram. Kalau dirham maknanya adalah perak seberat 2,975 gram, gitu. Jadi kata dinar dan kata dirham itu mengacu pada satuan berat," jelasnya.

Zaim mengaku sebagai salah satu penggerak Pasar Muamalah. Dia menambahkan tidak ada paksaan di dalam Pasar Muamalah. Semuanya, sambung Zaim, harus dijalankan dengan ridho.

"Oh iya tentu, saya di antara sekian banyak orang (yang menggerakkan Pasar Muamalah). Yang kedua, di dalam Pasar Muamalah ini prinsip pertamanya adalah perintah Allah SAW, bahwa dalam jual-beli itu bebas, ridho sama ridho. Tidak boleh ada pemaksaan alat tukar. Jadi di tempat kita ini, orang mau bawa jagung ditukar beras, boleh. Bawa emas ditukar baju, boleh. Kalau ada yang masih bawa uang kertas, ya kita nggak usir. Boleh, bebas, kebebasan memilih alat tukar, itu yang kita jaga," tandas dia.

Selengkapnya di halaman berikutnya.