KPK Duga Istri Edhy Prabowo Juga Terima Uang dari Suap Ekspor Benur

Farih Maulana Sidik - detikNews
Kamis, 28 Jan 2021 10:56 WIB
KPK memanggil istri Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) nonaktif Edhy Prabowo, Iis Rosyita Dewi, terkait kasus suap ekspor benih lobster atau benur.
Iis Rosita Dewi, istri Edhy Prabowo, dijerat KPK sebagai tersangka penerimaan suap terkait ekspor benur. (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Satu per satu dugaan aliran uang berkaitan dengan perkara dugaan suap dalam pengurusan ekspor benih lobster (benur) yang menjerat mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo dibongkar KPK. Penyidik KPK menduga Iis Rosita Dewi, yang merupakan istri Edhy Prabowo, turut menerima uang panas dari perkara itu.

Hal itu diungkapkan Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri dari hasil pemeriksaan terhadap seorang saksi bernama Alayk Mubarrok. Yang bersangkutan disebut Ali sebagai tenaga ahli Iis, yang juga tercatat sebagai anggota DPR RI.

"Alayk Mubarrok dikonfirmasi terkait posisi yang bersangkutan sebagai salah satu tenaga ahli dari istri tersangka EP (Edhy Prabowo) yang diduga mengetahui aliran uang yang diterima oleh tersangka EP dan tersangka AM (Amiril Mukminin/sekretaris pribadi Edhy Prabowo) yang kemudian diduga ada penyerahan uang yang diterima oleh istri tersangka EP melalui saksi ini," ucap Ali dalam keterangannya.

Alayk sudah menjalani pemeriksaan sebagai saksi di KPK pada Rabu, 27 Januari kemarin. Sedangkan istri Edhy Prabowo, yaitu Iis Rosita Dewi, sempat pula menjalani pemeriksaan sebagai saksi pada 22 Desember 2020. Saat itu Iis dicecar penyidik KPK mengenai pembelian barang-barang mewah di Amerika Serikat yang diduga berasal dari hasil tindak pidana penyuapan yang diterima suaminya.

"Sebelumnya, setelah tangkap tangan, yang bersangkutan telah diperiksa sebagai saksi dan dikonfirmasi terkait dengan aktivitas kunjungan dinas tersangka EP ke Amerika. Selain itu, terkait pengetahuan saksi mengenai adanya pembelian berbagai barang, di antaranya tas dan jam mewah, di Amerika Serikat yang sumber uang pembeliannya diduga dari penerimaan uang yang terkait perkara ini," kata Ali saat itu mengenai hasil pemeriksaan Iis.

Iis pula sempat diamankan KPK dalam operasi tangkap tangan (OTT) yang menjerat Edhy Prabowo. Namun Iis dilepas dengan status saksi karena pada saat itu penyidik KPK belum menemukan bukti yang menguatkan peran Iis sebagai tersangka.

Dalam perkara ini, total ada tujuh tersangka yang ditetapkan KPK, termasuk Edhy Prabowo. Enam orang lainnya adalah Safri sebagai mantan staf khusus Edhy Prabowo, Andreau Pribadi Misanta sebagai mantan staf khusus Edhy Prabowo, Siswadi sebagai pengurus PT Aero Citra Kargo (PT ACK), Ainul Faqih sebagai staf istri Edhy Prabowo, Amiril Mukminin sebagai sekretaris pribadi Edhy Prabowo, serta seorang bernama Suharjito sebagai Direktur PT DPP. Dari keseluruhan nama itu, hanya Suharjito yang ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap, sisanya disebut KPK sebagai penerima suap.

Secara singkat, PT DPP merupakan calon eksportir benur yang diduga memberikan uang kepada Edhy Prabowo melalui sejumlah pihak, termasuk dua stafsusnya. Dalam urusan ekspor benur ini, Edhy Prabowo diduga mengatur agar semua eksportir melewati PT ACK sebagai forwarder dengan biaya angkut Rp 1.800 per ekor.

KPK menduga suap untuk Edhy Prabowo ditampung dalam rekening anak buahnya. Salah satu penggunaan uang suap yang diungkap KPK adalah ketika Edhy Prabowo berbelanja barang mewah di Amerika Serikat (AS), seperti jam tangan Rolex, tas LV, dan baju Old Navy.

(fas/dhn)