Saran Komnas Perempuan ke Polisi di Kasus Istri Bantu Suami Perkosa Wanita

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Rabu, 27 Jan 2021 06:35 WIB
Poster
Ilustrasi (Foto: Edi Wahyono)
Jakarta -

Suami-istri inisial AF (30) dan YN (40) ditangkap polisi dalam kasus pemerkosaan di Bukittinggi, Sumatera Barat. Komnas Perempuan meminta agar proses hukum terhadap YN mempertimbangkan keadilan gender.

"Sebelum menjawab soal hukuman, mungkin kita perlu melihat posisi istri yang berada dalam ancaman suami dan penting menjadi pertimbangan APH (aparat penegak hukum)," kata Komisioner Komnas Perempuan, Theresia Iswarini saat dihubungi, Selasa (26/1/2021).

Menurut Theresia, YN membantu suaminya melakukan aksi pemerkosaan lantaran ada ancaman akan diceraikan. Sehingga YN tidak memiliki pilihan dalam mengambil keputusan.

"Ancaman merupakan upaya kontrol suami terhadap istri yang berada dalam posisi tidak memiliki pilihan atau membuat keputusan. Jadi pertimbangan menentukan hukuman harus dilihat pada konteks di mana tetap ada kuasa yang timpang antara istri dan suami," katanya.

"Dalam masyarakat patriarki, perempuan yang terikat dalam institusi pernikahan dengan laki-laki secara tidak langsung akan kehilangan seluruh identitas dan kepemilikan dirinya. Kontrol dan kekuasaan dipraktikkan oleh pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lemah. Pernikahan seringkali dijadikan justifikasi paling mujarab untuk menindas dan mendiskriminasi perempuan," sambungnya.

Theresia berharap polisi dalam memproses kasus ini melihat konteks. Dia menyebut istri melakukan kejahatan karena adanya ancaman dari suami.

"Kalau dalam hukum pidana kan semua orang yang diduga melakukan kejahatan maka menjadi sorotan tetapi yang perlu dilihat adalah konteksnya. Pada posisi istri, selain konteksnya berada di bawah ancaman untuk melakukan kejahatan tetapi pada konteks pidana dia berposisi sebagai perempuan yang berhadapan dengan hukum," jelasnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2