Eks Walkot Padang soal Aturan Jilbab untuk Siswi: Tak Ada Tempat Nyamuk Gigit

Jeka Kampai - detikNews
Selasa, 26 Jan 2021 16:06 WIB
Eks Wali Kota Padang Fauzi Bahar (dok. Istimewa)
Eks Wali Kota Padang Fauzi Bahar (Jeka Kampai/detikcom)
Padang -

Mantan Wali Kota Padang Fauzi Bahar berbicara tentang aturan jilbab bagi siswi di Padang yang disebutnya sudah ada sejak 15 tahun lalu dan tak pernah jadi polemik. Dia mengatakan ada sejumlah alasan di balik aturan agar siswi di Padang berjilbab ke sekolah.

Fauzi awalnya menjelaskan soal aturan berjilbab ke sekolah itu hanya wajib bagi siswi yang beragama Islam. Sementara itu, siswi nonmuslim tak dipaksa atau diwajibkan berjilbab ke sekolah.

"Kepada masyarakat atau warga Kota Padang yang nonmuslim hanya berupa imbauan, tidak diwajibkan. Saya melihat hanya miskomunikasi wali murid dengan Kepala SMK 2 itu. Pada prinsipnya tidak ada masalah, ada yang berjilbab dan tidak berjilbab bagi nonmuslim," kata Fauzi dalam video yang dilihat detikcom, Selasa (26/1/2021).

Dia kemudian berbicara tentang tindakan kriminal kepada remaja perempuan di Padang. Selain itu, dia menyebut penggunaan jilbab oleh siswi di sekolah ditujukan untuk mengurangi terlihatnya perbedaan kelas ekonomi antarmurid.

"Hasil yang kita dapatkan adalah memperdangkal jurang antara si kaya dan si miskin. Tidak semua ayah mampu membelikan anting emas untuk anak gadisnya, kalung emas. Ketika mereka berjilbab, semua tertutup, tidak kelihatan lagi jurang si kaya dan si miskin," tuturnya.

Fauzi menyebut pihaknya juga melakukan evaluasi setelah kebijakan berjilbab ke sekolah bagi para siswi diterapkan. Menurutnya, angka kasus demam berdarah atau DBD menurun karena tak ada lagi tempat untuk nyamuk menggigit.

"Setelah kita menggunakan jilbab itu, angka anak-anak kena DBD menurun drastis karena tidak ada tempat bagi nyamuk menggigit. Ketika dia tidak berjilbab, dia kakinya digigit nyamuk, pahanya, lengannya, lehernya. Ketika semuanya tertutup, nggak ada tempat nyamuk gigit," ucapnya.

Selain itu, dia menyebut suhu udara di Sumbar cukup dingin. Menurutnya, penggunaan jilbab di sekolah bagi para siswi juga ditujukan untuk mengurangi siswi kedinginan.

"Setidaknya mengurangi rasa dingin pada mereka," tuturnya.

Sebelumnya, polemik soal siswi nonmuslim diminta berjilbab di SMKN 2 Padang ini berawal setelah viral video adu argumen antara orang tua siswi, Elianu Hia, yang menilai putrinya diharuskan berjilbab saat ke sekolah. Elianu mengaku dipanggil melalui pesan lisan pihak sekolah kepada anaknya. Dia menyebut anaknya sudah tiga minggu dipanggil oleh pihak bimbingan dan konseling (BK) gara-gara tak memakai jilbab.

Pihak sekolah kemudian buka suara dan menyatakan tak ada paksaan bagi siswi nonmuslim untuk berjilbab ke sekolah. Selain itu, Dinas Pendidikan Sumatera Barat juga telah membentuk tim untuk mengusut masalah ini.

Pihak Disdik Sumbar menyebut tak pernah ada intimidasi ataupun paksaan bagi siswi nonmuslim untuk memakai jilbab. Selain itu, tata tertib SMKN 2 Padang juga tak menyebut secara detail siswi nonmuslim harus berjilbab. Meski demikian, ada aturan menggunakan pakaian muslim pada hari Jumat.

Sementara itu, Mendikbud Nadiem Makarim meminta masalah ini segera diselesaikan. Dia memerintahkan agar pihak yang terlibat dengan aturan intoleran tersebut diberi sanksi.

"Saya meminta pemerintah daerah sesuai dengan mekanisme yang berlaku, segera memberikan sanksi yang tegas atas pelanggaran disiplin bagi seluruh pihak yang terbukti terlibat, termasuk kemungkinan menerapkan pembebasan jabatan, agar permasalahan ini menjadi pembelajaran kita bersama ke depannya," ucap Nadiem.

(haf/idh)