Pengertian Magnitudo, Skala Gempa yang Kini Dipakai BMKG

Tim detikcom - detikNews
Senin, 25 Jan 2021 21:37 WIB
Warga memotret atap rumah yang ambruk akibat gempa bumi di Mamuju, Sulawesi Barat, Kamis (14/1/2021). BMKG Sulawesi Barat mencatat gempa bumi berkekuatan 5,9 skala richter terjadi pada pukul 14:35:49 WITA di empat kilometer Barat Laut Majene-Sulbar dengan kedalaman 10 Km dan tidak berpotensi tsunami. ANTARA FOTO/Akbar Tado/wsj.
Foto: ANTARA FOTO/AKBAR TADO/Pengertian Magnitudo, Skala Gempa yang Kini Dipakai BMKG
Jakarta -

Magnitudo adalah ukuran kekuatan gempa bumi yang menggambarkan besarnya energi seismik yang dipancarkan oleh sumber gempa dan merupakan hasil pengamatan seismograf.

Sebelum menggunakan skala Magnitudo (M), BMKG menggunakan Skala Richter (SR). SR dikembangkan oleh Charles Richter pada tahun 1934. SR merupakan skala pengukur kekuatan gempa yang paling terkenal dan luas digunakan.

Seperti dikutip dari situs United States Geological Survey (USGS) atau Survei Geologi Amerika Serikat, SR juga dikenal dengan sebutan Magnitudo Lokal (ML).

"Dalam praktiknya SR kini tidak digunakan lagi secara umum kecuali untuk gempa bumi lokal berkekuatan kecil," seperti yang dikutip dari USGS. SR disebut tidak memberikan perkiraan yang akurat untuk gempa bumi berskala besar

Saat ini skala Magnitudo Momen (MW) atau M adalah ukuran yang lebih akurat untuk ukuran gempa. Secara khusus, untuk gempa bumi sangat besar, skala Mw atau M memberikan perkiraan ukuran gempa yang paling dapat diandalkan.

Dikutip dari situs Michigan Technological University, skala Magnitudo atau MW didasarkan pada total momen pelepasan gempa bumi. Momen adalah hasil kali dari jarak pergerakan sesar dan gaya yang dibutuhkan untuk menggerakkannya. Ini berasal dari rekaman pemodelan gempa di beberapa stasiun.

Nilai skala Magnitudo atau MW hampir sama dengan SR untuk gempa bumi kecil hingga besar. Namun untuk gempa bumi dengan kekuatan M8 (Magnitudo 8) atau lebih hanya skala Magnitudo yang mampu mengukurnya secara akurat.

Skala Magnitudo atau MW ini dikembangkan seismolog asal Jepang, Hiroo Kanamori dan seismolog Amerika Serikat Thomas C. Hanks pada akhir tahun 1970-an.

Skala Magnitudo Gempa

1. 2,5 atau kurang = biasanya tidak terasa, tetapi dapat direkam dengan seismograf

2. 2,5-5,4 = sering dirasakan, tetapi hanya menyebabkan kerusakan kecil

3. 5,5-6,0 = dapat menyebabkan kerusakan ringan pada bangunan dan struktur lainnya

4. 6,1-6,9 = dapat menyebabkan banyak kerusakan di daerah berpenduduk padat

5. 7,0-7,9 = gempa bumi besar dengan kerusakan serius

6. 8,0 atau lebih besar = gempa hebat. Dapat menghancurkan komunitas di dekat pusat gempa.


Gempa bumi adalah bencana alam yang sering terjadi di Indonesia. Hal ini karena Indonesia terletak pada pertemuan 3 lempeng tektonik yang saling bertumbukan (konvergen).

Dalam buku Geografi SMP/MTs Kls VII (KTSP) karya Wirastuti Widyatmanti dan Dini Natalia, daerah rawan gempa di Indonesia antara lain Aceh, Sumatera Utara (Simeulue), Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Lampung, Banten, Pandeglang, Jawa Barat, Bantar Kawung, Yogyakarta, Lasem, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kepulauan Aru, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sangir Talaud, Maluku Utara, Maluku Selatan, Papua Utara, Jayapura, Nabire, Wamena, dan Kalimantan Timur.

Gempa bumi terbaru di Indonesia dengan korban jiwa yang signifikan terjadi 15 Januari 2021 lalu pukul 01.28 WIB dengan pusat di 6 km Timur Laut Majene, Sulawesi Barat. Gempa ini tercatat berkekuatan Magnitudo (M) 6,2.

(nwy/pal)