LPSK Beri Pendampingan ABG Disabilitas yang Digilir 3 Pria di Makassar

Muhammad Taufiqqurrahman - detikNews
Senin, 25 Jan 2021 11:50 WIB
Poster
Ilustrasi Pemerkosaan (Edi Wahyono/detikcom)
Makassar -

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) memberi pendampingan kepada remaja perempuan penyandang disabilitas yang diperkosa bergilir oleh 3 pria di Kota Makassar. LPSK menyoroti tingginya kasus asusila yang menargetkan penyandang disabilitas di Sulawesi Selatan (Sulsel).

"Kami lega keluarga korban bersedia untuk mengajukan perlindungan kepada LPSK, selanjutnya kami akan langsung telaah permohonan perlindungannya," kata Wakil Ketua LPSK Livia Iskandar dalam keterangannya, Senin (25/1/2021).

Livia mengatakan pihaknya mengecam keras tindakan kekerasan seksual terhadap perempuan difabel di bawah umur yang dilakukan oleh tiga orang pria di Kota Makassar. Langkah pihak kepolisian yang langsung memburu dan telah menangkap pelaku perlu mendapat apresiasi.

Tidak hanya itu, LPSK telah menyambangi korban kediamannya untuk menawarkan perlindungan. Dalam pertemuan dengan keluarga korban, dapat disimpulkan bahwa korban membutuhkan perlindungan ekstra dan sangat membutuhkan pendampingan dalam menjalani proses hukum ke depan.

"Kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak penyandang disabilitas perlu mendapatkan atensi khusus dari seluruh pihak," kata dia.

LPSK, kata Livia, hingga saat ini sedang memberikan perlindungan kepada sebanyak 14 korban tindak pidana dengan status penyandang disabilitas selama 2020-2021.

"Sebagian besar dari mereka yang kami lindungi merupakan korban kekerasan seksual," ujar Livia.

Livia juga menyoroti kasus kekerasan seksual terhadap penyandang disabilitas yang terjadi di wilayah Sulsel. Menurut data yang dimiliki LPSK, beberapa kasus kekerasan seksual di Sulsel kerap menarget kaum disabilitas dan dilakukan secara beramai-ramai.

"Kami menemukan kasus korban disabilitas rungu-wicara diperkosa beramai-ramai (gang rape) di Soppeng dan Makassar. Ada juga disabilitas rungu-wicara yang diperkosa tetangganya sampai hamil dan melahirkan di Makassar, ada juga korban anak disekap dan diperkosa berhari-hari di Enrekang," ujar Livia.

Livia juga mengingatkan perihal berbahayanya predator kekerasan seksual yang melakukan aksinya di dunia maya.

"Mereka perlu diwaspadai mengingat pada masa pandemi banyak aktivitas anak yang dibatasi untuk ke luar rumah, orang tua perlu mengawasi ketat aktivitas anaknya dalam menggunakan internet," terangnya.

(tfq/nvl)