Ada 30 Ribu Vaksinator, Jokowi Targetkan Vaksinasi COVID Rampung Setahun

Andhika Prasetia - detikNews
Senin, 25 Jan 2021 10:20 WIB
Presiden Jokowi setelah disuntik vaksin Corona
Presiden Jokowi setelah disuntik vaksin COVID-19 pada 13 Januari 2021. (Biro Pers Sekretariat Presiden)

Sehari setelah dilantik menjadi Menkes, Budi Gunadi Sadikin mendapat masukan dari beberapa aktivis Kesehatan bahwa jumlah kasus COVID akan melonjak sedikitnya 30 persen setelah liburan Natal dan tahun baru. Artinya, dalam waktu singkat kapasitas ruang perawatan di rumah sakit harus ditambah.

"Mereka bilang saya pasti akan kalang-kabut bila tak segera mengantisipasi, karena minggu kedua dan ketiga Januari jumlah pasien COVID pasti akan melonjak sedikitnya 30 persen," kata Budi kepada tim Blak-blakan detikcom, Jumat (22/1).

Dia mengaku tak bisa tidur mendapat masukan dari mereka. Budi langsung meminta rumah sakit menambah kapasitas ruang rawat inap dan ICU. Khusus di Jakarta, misalnya, kapasitas RSCM ditambah 50-60 kamar dan RS Fatmawati (60-70 kamar).

Secara hitungan kasar, kebutuhan tempat tidur di rumah sakit RS untuk rawat pasien adalah 30 persen dari kasus aktif dan 5 persen untuk ICU. Jika pada November jumlah kasus aktif mencapai 50 ribu, jadi butuh 15 ribu kamar (tempat tidur) dan 2.500 untuk di ICU.

Pada Januari, jumlahnya mencapai 140 ribu kasus aktif. Jadi jumlah ruangan atau tempat tidur yang harus disiapkan melonjak dari 15 ribu menjadi 41 ribu.

Selain itu, bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, dia memberikan izin kilat untuk RS Ukrida berkapasitas 267 tempat tidur. Izin untuk rumah sakit itu sudah lama diajukan tapi tak kunjung keluar.

"Saya ngomong ke gubernur, dia paham akan terjadi lonjakan jadi butuh tambahan kapasitas, ya udah kita approve, jebret," katanya.

Terobosan ketiga, untuk menambal kekurangan dari sisi tenaga kesehatan (perawat), dia merekrut 10 ribu perawat yang baru lulus. Dia mengizinkan mereka untuk langsung bekerja meskipun lazimnya harus ada proses sertifikasi. "Selama masa pandemi mereka bisa langsung kerja, gak perlu nunggu sertifikasi dulu," ujarnya.

Selain itu, dia juga membenahi dan mengintegrasikan sistem TI di lingkungan Kemenkes. Maklum, sarjana fisika nuklir itu pernah menjadi staf teknologi informasi (TI) di IBM Asia-Pasifik dan berkantor di Tokyo, Jepang. Pembenahan sistem TI ini terkait dengan data tenaga kesehatan yang akan menerima vaksinasi.

Terkait program vaksinasi, dia antara lain menghadapi kendala logistik berupa terbatasnya jumlah lemari pendingin untuk mendistribusikan dan menyimpan vaksin. Untuk menyiasatinya, selain meminta puskesmas untuk menambah lemari pendingin, dia juga bekerja sama dengan Unilever yang punya kapasitas untuk itu.

Halaman

(dkp/imk)