Epidemiolog Perkirakan Kasus COVID-19 di Indonesia Lebih dari 1 Juta

Arief Ikhsanudin - detikNews
Minggu, 24 Jan 2021 05:51 WIB
Mural bertema waspada penyebaran virus Corona hiasi jalan di Solo. Lukisan itu dibuat agar para pengguna jalan mematuhi protokol kesehatan guna cegah COVID-19
Ilustrasi (Foto: Agung Mardika)
Jakarta -

Tambahan kasus baru COVID-19 dalam sehari sempat membuat grafik kasus positif melonjak. Sejak Selasa (12/1), tambahan kasus baru COVID-19 di Indonesia hampir selalu di atas 10 ribu kasus dalam sehari sehingga secara kumulatif ada 977.474 kasus COVID-19 hingga hari ini.

Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman, memperkirakan kasus COVID-19 di Indonesia sebenarnya lebih dari satu juta kasus. Namun, dia menyebut ada kelemahan testing dan tracing sehingga kasus yang terdata tidak setinggi itu.

"Sebetulnya, kasus kita, tembus satu juta sudah dari menjelang akhir tahun lalu. Saat ini, setidaknya satu persen penduduk sudah terpapar," ucap Dicky saat dihubungi, Sabtu (23/1/2021) malam.

"Karena cakupan testing rendah, maka yang terdeteksi ya baru segitu. Ini bisa dua kalinya, dua sampai tiga kali lipatnya dari kasus saat ini (977.474 kasus positif COVID)," ujarnya.

Perkiraan Dicky berdasar pada positivity rate nasional yang masih tinggi. Diketahui, positivity standar yang ditetapkan WHO yaitu 5 persen.

"Itu terlihat dari tes positivity rate tinggi. Sejak Januari selalu di atas 20 persen, menandakan sebagian kasus tidak terdeteksi, dan (prediksi) kasus harian sudah 60 ribu per hari," ucap Dicky.

Saat ini, rekor penambahan kasus nasional di Indonesia terjadi pada Sabtu (16/1) dengan 14.224 kasus positif. Pada pekan lalu, tambahan kasus baru COVID-19 memang sempat empat hari berturut memecahkan rekor.

Empat kali kasus baru COVID-19 pecah rekor berturut-turut alias quadruple terjadi pada periode 13-16 Januari. Berikut rinciannya:

13 Januari 2021: 11.278 kasus baru
14 Januari 2021: 11.557 kasus baru
15 Januari 2021: 12.818 kasus baru
16 Januari 2021: 14.224 kasus baru

Dicky mengatakan di waktu depan bakal ada penambahan kasus lebih tinggi lagi.

"Kasus kematian akan 500-an (per hari), kasus harian (positif) akan 20-30 ribu, tidak aneh. Karena estimasi saja sudah 60 ribu kasus per hari saat ini," kata Dicky.

Agar kasus tidak semakin parah, Dicky meminta pemerintah meningkatkan kapasitas testing dan tracing. Sehingga, kasus yang ada bisa terjaring dan diantisipasi.

"Testing dan tracing kita masih menjadi PR besar yang membuat masalah semakin besar. Membuat kondisi pandemi kita menjadi semakin cenderung tidak terkendali, karena semakin banyak kasus infeksi yang tidak kita deteksi," ucapnya.

Dicky pun berpesan agar vaksin tidak diartikan sebagai penyelesaian masalah. Menurutnya, vaksin adalah strategi jangka menengah atau jangka panjang.

"Vaksin tidak bisa jadi andalan. Vaksin posisinya dalam strategi, setidaknya di mid trem, dan long trem. Dan di depan, dalam pelaksanaan vaksinasi, 3T (testing, tracing, treatment) ini penting untuk jadi keberhasilan," ucapnya.

Lihat berita selengkapnya di halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2