Rekomendasi Pakar ke Menkes Perbaiki Testing Corona di RI yang Salah

Eva Safitri - detikNews
Sabtu, 23 Jan 2021 07:55 WIB
Coronavirus 2019-nCoV Sample. New Epidemic Corona Virus. Corona virus outbreaking. Corona Virus in Lab. Scientist hold tube with Test with the Virus Name Coronavirus. sputum examination
Ilustrasi (Foto: iStock)

Pernyataan senada disampaikan oleh Ketua Umum Perhimpunan Ahli Epidemiologi, Hariadi Wibisono. Hariadi mengatakan tes Corona mestinya dilakukan kepada orang-orang yang dicurigai terpapar.

"Memang seperti yang disampaikan Pak Menteri itu betul. Jadi mestinya yang dites itu yang dicurigai, dicurigai itu bisa orang bergejala bisa juga yang ada riwayat kontak dengan yang terpapar, jadi bukan ketika kita di jalan terus kita lakukan tes gitu, tujuannya bukan itu," ujarnya.

"Kita tuh dengan tes itu untuk mengajarkan mastikan apakah orang bergejala itu dia positif, lalu dengan orang yang ada riwayat kontak itu juga termasuk yang perlu dites, kalau kita bisa lakukan itu bisa tau bagaimana penyebaran kasus," lanjut Hariadi.


Dia mengatakan tracing yang dilakukan saat ini kurang efektif. Menurutnya, masih ada kekaburan terkait orang-orang yang harus dites.

"Iya tracing kurang, karena kita melihat bahwa yang dilakukan tes itu kabur antara orang yang kemungkinan besar negatif dengan orang yang memang dicurigai," kata Hariadi.

Lebih lanjut, dia mengatakan saat ini Kemenkes sudah menyusun petunjuk teknis baru terkait testing. Dia berharap ada perbaikan sistem testing kedepannya.

"Yaitu kemenkes sudah menyusun juknis memperjelas juknis yang ada tadi disampaikan Pak Menteri itu, juknis versi 6, yang mudah-mudahan itu memjawab kelemahan-kelemahan, saya tidak menggunakan istilah salah, tapi perlu diperbaiki, selalu ada ruang untuk perbaikan," tuturnya.

Sebelumnya, Menkes Budi Sadikin mengomentari upaya 3T atau testing, tracing dan treatment terkait penanganan COVID-19 dalam 'Dialog Warga 'Vaksin & Kita' Komite Pemulihan Ekonomi % Transformasi Jabar' yang disiarkan di YouTube PRMN SuCi seperti dikutip Jumat (22/1).

Dia menyebut testing Corona saat ini salah secara epidemiologi. Penyebabnya, testing tinggi itu sebagian di antaranya menyasar kepada pihak yang itu-itu saja. Satu orang bisa dites sampai berkali-kali dan masuk hitungan testing. Budi Sadikin mencontohkan dirinya yang seminggu bisa dites 5 kali. Dia menilai itu tidak efektif karena seharusnya yang dites adalah suspek Corona.

"Kita tuh nggak disiplin. Cara testingnya salah. Testingnya banyak, tapi kok naik terus. Habis, dites orang kayak saya. Setiap kali mau ke Presiden dites, (ke) Presiden dites. Barusan saya diswab. Seminggu bisa 5 kali swab karena masuk Istana. Emang bener gitu? Testing kan nggak gitu harusnya kan," kata Budi Sadikin.

"Testing itu kan, testing epidemiologi ya aku diajarin tuh sama temen-temen dokter, bukan testing mandiri. Yang dites tuh orang yang suspek, bukan orang yang mau pergi kayak Budi Sadikin mau ngadep Presiden. Nanti 5 kali (dites) standar WHO kepenuhi tuh, 1 per 1.000 per minggu, tapi nggak ada gunanya testingnya secara epidemiologi," imbuh dia.

Halaman

(eva/knv)