Komisi VII DPR Dorong Produksi Massal GeNose: Tes Antigen-Swab Masih Mahal

Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
Selasa, 19 Jan 2021 15:32 WIB
Sekjen Partai Amanat Nasional (PAN) Edy Soeparno bersama jajaran pengurus PAN menyampaikan keterangan pers mengenai HUT ke-20 PAN di Kantor DPP PAN, Jalan Senopati, Jakarta Selatan, Rabu (22/8/18). HUT PAN mengusung tema Bela Rakyat, Bela Umat.
Eddy Soeparno (Lamhot Aritonang/detikcom)
Jakarta -

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eddy Soeparno mendukung penuh produksi massal GeNose, alat pendeteksi COVID-19 melalui embusan napas. GeNose dinilai bisa meringankan beban tes COVID-19 bagi masyarakat.

Kolaborasi UGM dan Kemenristek/BRIN menciptakan GeNose, alat screening COVID-19 lewat napas. Komisi VII DPR, yang membidangi riset dan teknologi, mendukung produksi massal GeNose.

"Produksi massal GeNose akan mempermudah dan meringankan beban masyarakat yang ingin melakukan tes COVID-19 karena estimasi harga per pemeriksaannya hanya 25 ribu. Apalagi PCR maupun swab antigen harganya masih relatif mahal dan memberatkan masyarakat serta kadang-kadang sulit untuk dikontrol harganya," kata Wakil Ketua Komisi VII DPR Eddy Soeparno dalam keterangannya, Selasa (19/1/2021).

Eddy Soeparno mengapresiasi Kemenristek/BRIN yang telah berhasil mengembangkan GeNose. Eddy menilai sensitivitas GeNose untuk screening COVID-19 sudah baik.

"Apalagi sudah teruji dan terbukti tingkat sensitivitasnya dan spesifisitasnya, nanti kan akurasi di atas 90 persen. Begitu juga dari aspek-aspek kepraktisan karena GeNose itu relatif portabel dan bisa dibawa ke mana-mana," lanjut Eddy.

Eddy menyampaikan produksi massal GeNose sangat penting untuk langkah 3T atau testing, tracing, dan treatment. Jika GeNose berhasil, Eddy mendorong ekspor.

"Kami juga mendorong supaya GeNose menjadi produk anak bangsa yang digunakan secara massif oleh kementerian, lembaga, instansi, bahkan sektor swasta yang ada di Indonesia sebagai bagian dari program 3T," sebut Eddy.

"Bahkan, kalau memang diperlukan, kita bisa memenuhi kebutuhan di dalam negeri sendiri. Kita sudah bisa melihat kemungkinan untuk mengekspor GeNose itu ke luar negeri," sebut dia.

Untuk diketahui, Menristek/BRIN Bambang Brodjonegoro mengatakan sensitivitas GeNose sudah di atas 90 persen. Spesifisitas GeNose juga 90 persen. Spesifisitas adalah kemampuan tes untuk menunjukkan individu mana yang tidak menderita sakit dari mereka yang benar-benar tidak sakit.

"Akurasinya menurut uji validasi yang dilakukan terakhir yang sudah disampaikan kepada Kemenkes sebelum dapat izin edar tingkat sensitivitas itu sekitar 92 persen, tingkat spesifisitas itu 90 persen. Jadi intinya kita ingin punya alat screening atau rapid test yang mudah," ujar Bambang dalam acara konferensi pers penyerahan alat GeNose C19 secara daring, Kamis (7/1).

(gbr/maa)