Arief Budiman Dipecat, PKS Soroti Ketegangan Berkelanjutan KPU-DKPP

Eva Safitri - detikNews
Kamis, 14 Jan 2021 14:08 WIB
Jakarta -

Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) memecat Arief Budiman sebagai Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI. PKS menyoroti ketegangan berkelanjutan antara KPU dan DKPP.

"Tentu menyedihkan. Ini jadi preseden yang tidak baik. Ada ketegangan berterusan antara KPU dan DKPP," kata anggota Komisi II Fraksi PKS Mardani Ali Sera kepada wartawan, Kamis (14/1/2021).

Mardani menghormati pandangan DKPP dalam mengambil putusan terkait Arief Budiman. Dia menilai posisi KPU dilematis.

"Jika berkaitan dengan penegakan hukum dan etika, DKPP tentu punya independensi. Dengan masih banyaknya pintu penyelesaian sengketa posisi KPU memang dilematis," ujarnya.

Namun Mardani mengusulkan dialog antarpenyelenggara pemilu tersebut. "Dialog dan komunikasi bisa juga dijalankan agar semua penyelenggara pemilu dapat amanah menunaikan tugasnya," tuturnya.

Diketahui, pemecatan Arief Budiman itu terkait dengan pendampingannya terhadap komisioner KPU Evi Novida Ginting menggugat surat keputusan Presiden. Selain itu, Arief dinyatakan bersalah karena tetap menjadikan Evi Novida komisioner KPU.

Arief Budiman dinilai melanggar kode etik dan dinyatakan tidak pantas menjadi Ketua KPU. DKPP juga menilai sikap Arief terkesan mendukung perlawanan terhadap DKPP.

"Teradu terbukti tidak mampu menempatkan diri pada waktu dan tempat di ruang publik karena di setiap kegiatan Teradu di ruang publik melekat jabatan Ketua KPU," demikian bunyi penggalan putusan DKPP dalam persidangan.

DKPP menjatuhkan putusan dengan mencopot Arief Budiman sebagai Ketua KPU. Berdasarkan hal tersebut, Arief melanggar Pasal 14 huruf c juncto Pasal 15 huruf a dan huruf b juncto Pasal 19 huruf c dan e Peraturan DKPP No 2 Tahun 2017 tentang kode etik dan pedoman perilaku penyelenggara pemilu. KPU diminta melaksanakan putusan tersebut dalam tujuh hari.

Arief Budiman angkat suara terkait pemecatannya. Arief Budiman merasa dirinya tak pernah melakukan pelanggaran.

"Saya tidak pernah melakukan pelanggaran dan kejahatan yang mencederai integritas pemilu," ujar Arief kepada wartawan, Rabu (13/1).

(eva/gbr)