Menantu Nurhadi Positif COVID-19, Pengacara Minta Sidang Ditunda

Zunita Putri - detikNews
Rabu, 13 Jan 2021 14:00 WIB
Menantu eks Sekretaris MA Rezky Herbiyono diperiksa KPK, Jakarta, Selasa (22/9/2020).
Menantu Nurhadi, Rezky Herbiyono (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Menantu mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi bernama Rezky Herbiyono dinyatakan positif Corona (COVID-19). Pengacara Nurhadi dan Rezky, Maqdir Ismail, meminta majelis hakim menunda sidang yang sejatinya digelar hari ini.

"Pemberitahuan dari rutan kepada kami begitu (positif COVID-19)," ujar Maqdir saat dimintai konfirmasi, Rabu (13/1/2021).

Maqdir meminta majelis hakim menunda sidang yang seharusnya digelar hari ini. Maqdir mengatakan, untuk menekan penyebaran virus COVID-19, persidangan Rezky harus ditunda.

"Menurut hemat saya, mestinya kita mau berbesar hati untuk menghentikan seluruh persidangan. Supaya korban tidak bertambah. Apalagi ini melibatkan banyak pihak. Di pengadilan ada hakim, JPU (jaksa penuntut umum), penasihat hukum, panitera yang berada dalam satu ruangan dalam waktu yang lama. Kemudian di gedung KPK, ada penasihat hukum, terdakwa, dan tentu saja petugas KPK," kata Maqdir.

"Kondisi sekarang ini dalam keadaan darurat. Menghadapinya harus dengan darurat pula, tidak bisa dihadapi dengan keadaan normal dan tidak ada masalah untuk mendapatkan dan menjaga kesehatan itu adalah hak asasi yang diberikan oleh UUD 45," tambahnya.

Menurut Maqdir tidak ada alasan jika sidang tidak bisa ditunda. Dia pun bicara terkait peraturan penahanan seorang terdakwa.

"Kalau alasan penyelesaian perkara terkait penahanan, kan bisa saja penahanan dibantarkan. Penahanan itu bukan kewajiban, tapi hak subjektif yang bisa digunakan atau tidak bisa digunakan. Ketentuan Pasal 21 KUHAP itu ada syarat mutlak untuk penahanan, karena akan mengulangi perbuatan, menghilangkan barang bukti dan akan melarikan diri," tutur Maqdir.

Untuk diketahui, Nurhadi didakwa menerima suap dan gratifikasi Rp 83 miliar bersama-sama dengan Rezky Herbiyono terkait pengurusan perkara di pengadilan tingkat pertama, banding, kasasi, ataupun peninjauan kembali. Nurhadi dan Rezky didakwa menerima suap dan gratifikasi dalam kurun 2012-2016.

Uang suap ini diterima Nurhadi dan Rezky dari Hiendra Soenjoto selaku Direktur Utama PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) agar keduanya membantu Hiendra dalam mengurus perkara. Jaksa menyebut tindakan Nurhadi itu bertentangan dengan kewajibannya sebagai Sekretaris MA.

(zap/dkp)