Pengacara Nurhadi Sebut Jaksa KPK Cari-cari Kesalahan soal Lahan Sawit

Zunita Putri - detikNews
Jumat, 11 Des 2020 21:42 WIB
Eks Sekretaris MA Nurhadi dan menantunya Rezky Herbiyono kembali jalani sidang virtual. Sidang itu digelar terkait kasus suap-gratifikasi yang menjerat keduanya
Mantan sekretaris MA Nurhadi (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Pengacara mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi, Muhammad Rudjito, menyebut jaksa KPK mencari-cari kesalahan terkait lahan sawit yang dimiliki menantu kliennya, Rezky Herbiyono. Dia menyebut saksi yang dihadirkan jaksa KPK tidak relevan dengan dakwaan.

"Jadi dalam perkara ini atau dalam konteksnya dengan kesaksian hari ini, KPK itu numpang untuk membuktikan TPPU. Predicate crime dari TPPU-nya yaitu membeli kebun sawit. Padahal, dalam dakwaan, soal kebun sawit itu tidak ada," kata Rudjito di PN Tipikor, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Jumat (11/12/2020).

Menurut Rudjito, kesaksian Amir Wijaya, Sekretaris Pengadilan Tinggi Agama Medan Hilman Lubis, dan Kepala Desa Pancaukan Syamsir tidak berkaitan dengan perkara suap.

"Jadi KPK ini numpang untuk mencari-cari apakah ada predicate crime dalam perkara ini dalam konteksnya dengan TPPU, yang sebetulnya saksi-saksi hari ini tidak relevan dengan Pasal 12 a atau Pasal 11 ataupun Pasal 12 B, karena ini berkaitan dengan suap, tapi ini nggak ada kaitannya dengan suap," katanya.

Menanggapi pernyataan Rudjito, jaksa KPK Takdir Suhan menegaskan setiap saksi yang dihadirkan berkaitan dengan dakwaan. Takdir mengatakan jaksa optimistis dapat membuktikan semua dakwaan Nurhadi.

"Bagaimanapun, saksi yang kami tampilkan kami yakini bahwa memang dia mengetahui apa yang kami dakwakan. Logikanya, yang kami sampaikan bahwa kalau memang tidak ada kaitannya, ngapain tim penasihat hukum menanyakan," kata Takdir.

Takdir mengatakan jaksa KPK akan menganalisis setiap keterangan saksi yang dihadirkan. "Bagaimanapun, fakta yang ada di sidang ini adalah fakta hukum. Dan nanti akan kami kaji, kami sampaikan, inilah fakta yang muncul di sidang dan bisa menjadi bahan bagi tim untuk menindaklanjuti adanya fakta-fakta lain kaitannya dengan tindak pidana lain," jelasnya.

Dalam kasus ini, Nurhadi dan Rezky didakwa menerima suap dan gratifikasi Rp 83 miliar terkait pengurusan perkara di pengadilan tingkat pertama, banding, kasasi, ataupun peninjauan kembali. Nurhadi dan Rezky didakwa menerima suap dan gratifikasi dalam kurun 2012-2016.

Uang suap ini diterima Nurhadi dan Rezky dari Hiendra Soenjoto selaku Direktur Utama PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT) agar keduanya membantu Hiendra dalam mengurus perkara. Jaksa menyebut tindakan Nurhadi itu bertentangan dengan kewajibannya sebagai Sekretaris MA.

Di surat dakwaan, jaksa mengungkapkan uang suap yang diterima Nurhadi dan Rezky Herbiyono itu dibelikan lahan sawit, kendaraan, dan tas bermerek hingga melakukan renovasi rumah di kawasan Senayan, Jakarta Selatan.

(zap/aud)