Lantik 4 Kapusdik, Kalemdiklat Ungkap Kemampuan Pusdik Naik 350% di 2020

Jabbar Ramdhani - detikNews
Jumat, 08 Jan 2021 13:30 WIB
Kalemdiklat Polri Komjen Arief Sulistyanto (dok. Istimewa)
Foto: Kalemdiklat Polri Komjen Arief Sulistyanto (dok. Istimewa)
Jakarta -

Kalemdiklat Polri Komjen Arief Sulistyanto melantik dan mengambil sumpah sejumlah pejabat Kepala Pusat Pendidikan (Kapusdik). Dalam sambutannya, Komjen Arief bicara soal inovasi program Pendidikan Pengembangan Spesialisasi Fungsi (Dikbangspes) Polri.

"Pusdik adalah salah satu lembaga satuan pendidikan dalam jajaran Lemdiklat Polri yang memiliki peran penting dalam pelaksanaan pendidikan spesialisasi fungsi teknis kepolisian," kata Komjen Arief dalam keterangan tertulisnya, Jumat (8/1/2021).

Acara sertijab digelar di Lemdiklat Polri di Ciputat, Jakarta Selatan, hari ini. Pejabat yang dilantik sebagai Kapusdik adalah Kapusdik Brimob Kombes Heri Sulesmono, Kapusdik Administrasi Kombes Taufik Supriyadi, Kapusdik Intelijen Kombes Yuyun Yudhantara, Kapusdik Pembinaan Masyarakat Kombes Markilat Heru Prasetyo. Selain itu juga dilantik Karorenmin Lemdiklat Polri Brigjen Mulia Hasudungan Ritonga.

Komjen Arief mengatakan setiap anggota Polri harus ditingkatkan kemampuannya dari penguasaan tugas polisi umum menjadi seorang polisi spesialis fungsi tertentu sebagai upaya upgrading dan updating kemampuan teknis profesi.

Namun kendala yang dihadapi selama ini adalah terbatasnya kapasitas peserta didik karena fasilitas dan pola pendidikan dipusatkan jadi satu di Pusdik-Pusdik. Akibatnya dalam satu tahun hanya ada maksimal 4.500 personel bintara yang dididik untuk satu fungsi teknis atau hanya 400 orang tiap fungsi teknis. Misalnya fungsi Reskrim atau fungsi Lantas.

Artinya jika 4.500 personel itu dibagi di 34 polda yang ada di Indonesia, maka tiap polda hanya kebagian 11 orang bintara yang punya spesialisasi fungsi teknis. Sementara jumlah Bintara Polri sekitar 352.000 orang (80% seluruh anggota Polri).

Jika hanya dididik di Pusdik-Pusdik, diperlukan waktu 78 tahun untuk bisa meningkatkan kemampuan spesialisasi 352 ribu bintara polisi tersebut karena hanya mampu menyerap 4.500 personel setiap tahunnya.

"Maka perlu terobosan perubahan kebijakan dengan melakukan serangkaian langkah strategis. Pertama mengubah pola pendidikan spesialisasi dari semula disentralisasi di Pusdik, menjadi pola didesentralisasi di tiap SPN di Polda-Polda. Tapi Pusdik tetap sebagai penanggung jawab materi," sambung Komjen Arief.

Dia mengungkap, dibangunnya Fasilitas IT Center pada awal tahun 2019 untuk mendukung program desentralisasi yang menerapkan metode Pembelajaran Jarak Jauh ternyata sangat efektif dalam mengatasi program diklat dalam masa pandemi.

Lewat terobosan yang dimulai 2020 ini, maka Lemdiklat telah berhasil meningkatkan kapasitas dan kualitas kemampuan spesialisasi sebanyak 14.000 personel atau meningkat 350% dari pola biasa. Dia menjelaskan tujuan akhir program pembenahan ini adalah untuk membangun Polri yang profesional dan berintegritas guna mewujudkan rasa aman dalam kehidupan masyarakat.

"Itulah salah satu program pembenahan Pendidikan dan Latihan Personel Polri yang selama ini menjadi sasaran program pembenahan profesionalitas Polri yang terus kita perjuangkan untuk membangun kinerja Polri dan menekankan Kepemimpinan Role Model. Sumber daya manusia adalah aset utama organisasi sehingga harus dikelola dengan benar,"
ungkapnya.

(jbr/fjp)