Kasus COVID Tinggi, Sekolah Daring di Makassar Diperpanjang hingga 1 April

Ibnu Munsir - detikNews
Jumat, 08 Jan 2021 12:36 WIB
YOGYAKARTA, INDONESIA - SEPTEMBER 28: Kharisma Anisa Putri (14), uses her broke screen smartphone for studying online using free wifi provided by the village as to help parents with financial difficulties, they pay 30,000 Indonesian Rupiah or around (USD 2) per month amid the Coronavirus pandemic on September 28, 2020 in Yogyakarta, Indonesia. According to the Indonesian Ministry of Education and Culture data nearly 70 million children have been affected by school shutdowns which started in mid-March. Since it closed on March 16, the school has implemented various methods and approaches to support distance learning. Even so, its implementation in the field still faces various obstacles. The problem is limited support facilities, such as laptops, smart phones, and internet data packages. In addition, parents also claim to not have enough time and feel they lack the knowledge to accompany children to learn online. Indonesia is struggling to contain thousands of new daily cases of coronavirus amid easing of rules to allow economic activity to resume. (Photo by Ulet Ifansasti/Getty Images)
Ilustrasi (Ulet Ifansasti/Getty Images)
Makassar -

Sekolah tatap muka yang direncanakan mulai dilakukan pada Januari 2021 batal diterapkan di Kota Makassar. Pemkot Makassar memperpanjang masa sekolah daring atau sekolah online dari rumah hingga 1 April mendatang karena kasus COVID-19 masih tinggi.

"Sesuai penyampaian Bapak Gubernur melalui surat edarannya, bahwa sejak 4 Januari hingga tanggal 1 April itu, sekolah tidak dilakukan dengan tatap muka. Makassar ini masih dalam kondisi rawan, sehingga kita tidak memungkinkan untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Jadi belajar dari rumah. Jadi kita tetap melaksanakan belajar dari rumah," kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Irwan Bangsawan saat dimintai konfirmasi wartawan, Jumat (8/1/2021).

Untuk menunjang pembelajaran siswa dari rumah, Disdik Makassar telah membuat modul belajar online yang telah dikirim ke seluruh sekolah. Modul ini dibuat agar para siswa tidak jenuh mengikuti sistem belajar online dari rumah.

"Ya tentunya begini, ada kejenuhan orang tua murid, orang tua siswa, kemarin ketika belajar dari rumah. Kita perbaiki sedikit dengan melakukan pelajaran melalui modul. Kita membuat modul seragam, kenapa pembelajaran dari rumah itu secara daring. Ini lebih bervariasi dalam artian bisa memenuhi keinginan semua, baik itu anak murid siswa maupun orang tua murid," ujarnya.

Irwan menyebut Disdik Makassar juga telah membuat petunjuk teknis jika nantinya sekolah tatap muka sudah dapat diterapkan di Kota Makassar. Juknis dibuat agar siswa dapat belajar tatap muka nantinya dengan tetap mencegah penyebaran COVID-19.

"Kalau Makassar sudah terkendali kondisi pandemi COVID, barangkali kita melakukan pembelajaran tatap muka. Tentunya pembelajaran tatap muka ini harus ada juknis, tapi juknis ini kita sudah kita siapkan. Kita tinggal sampaikan sesuaikan kepada sekolah-sekolah satuan pendidikan," jelasnya.

"Juknis ini berisi tentang bagaimana persyaratan-persyaratan sehingga kita bisa melakukan pembelajaran tatap muka, antara lain ada daftar periksa. Itu diisi oleh sekolah-sekolah. Adanya persetujuan dari orang tua murid," lanjutnya.

Ia juga menjelaskan sekolah tatap muka akan dibuka secara bertahap nantinya, mulai tingkatan perguruan tinggi, SMA, SMP, SD, dan pendidikan anak usia dini (PAUD). Mereka akan mengikuti proses pembelajaran dengan protokol COVID-19 yang ketat.

"Ini tetap berjenjang, jadi intinya sesuai dengan harapan Gubernur dan Bapak Wali Kota, mulai perguruan tinggi kemudian di tingkat SMA, SMP, SD, terakhir PAUD. Bagaimana prosedur pembelajarannya, tentunya sesuai dengan juknis dalam juknis tersebut maksimal 50 persen dari pada total siswa. Artinya, ketika 38 siswa dalam satu kelas, itu menjadi 18 siswa. Kemudian bagaimana jam pelajarannya dalam 1 hari itu maksimal 2 jam untuk SMP, SD itu satu setengah jam," imbuhnya.

(nvl/nvl)