Siswi Berprestasi Terjaring Razia PMKS Kemensos di Kolong Jembatan Jakpus

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Kamis, 07 Jan 2021 22:45 WIB
Kondisi GOR Kecamatan Tanah Abang (Tiara Aliya Azzahra/detikcom).
Suasana GOR Kecamatan Tanah Abang (Tiara Aliya Azzahra/detikcom)
Jakarta -

Sejumlah tunawisma terjaring razia penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang diadakan oleh Kementerian Sosial (Kemensos) maupun pemerintah pusat. Di antara tunawisma yang terjaring, ada seorang siswa yang berprestasi.

Siswi ini bernama Nazwa (15). Ia bersama ibunya, Lilis Mulyadi (50), ditemukan oleh tim Kemensos menggelandang di kolong jembatan Stasiun Juanda, Jakarta Pusat.

Sudah tiga bulan ia tidur di kawasan ini hanya bermodalkan terpal untuk melindungi keduanya dari hujan. Kepada keduanya, tim dari Kemensos pun mengajukan sejumlah pertanyaan.

"Datanglah ibu Kemensos dari Bekasi berpakaian biasa, pakaian pribadi bukan pakaian kantor, jadi masuk ke dalam pagar tanyalah ke Nazwa. 'Assalamualaikum. Anda di sini sendiri? Mana mamanya?' Memang (saat itu) saya ada di dalam tenda. Tenda itu saya bikin dari spanduk-spanduk biar kalau hujan nggak tampias, nggak keliatan dari jalan," kata Lilis saat ditemui detikcom di GOR Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (7/1/2021).

Diketahui, keduanya mulai menggelandang di jalanan sejak Lilis cekcok dengan suaminya yang merupakan bapak tiri Nazwa. Sebelum tinggal di kolong, mereka sempat beberapa kali mengontrak rumah di daerah Jakarta Pusat.

"Sudah mau jalan tiga bulan. Awalnya saya ngontrak di Mangga Besar satu bulan, kemudian pindah ke Juanda di pasar darurat, satu bulannya lagi di Harmoni," terangnya.

Selama mengenyam pendidikan SD, beragam prestasi pun ditorehkan oleh Nazwa. Salah satunya, ia tercatat sebagai juara 1 lomba Olimpiade Matematika Tingkat MI se-Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Tak hanya itu, di sekolah Nazwa pun selalu masuk ranking tiga besar di kelas.

Pada 2019, Nazwa sempat melanjutkan sekolah ke MTs melalui jalur prestasi sewaktu masih tinggal di Lahat. Namun, baru tiga bulan mengenyam pendidikan, ia terpaksa berhenti sekolah karena diusir ayah tirinya.

Lilis mengatakan, saat kejadian itu berlangsung, dirinya sedang berada di Jakarta. Akhirnya, Nazwa pun memutuskan menyusul ibunya ke Jakarta.

"Berhenti sekolah karena bapaknya. (Bapaknya) minta kirim dari saya uang, katanya 'Nazwa udah gua usir'. Saya nggak tahu dia lari ke hutan minta tolong ke teman kakaknya. Dia (nyusul saya) ke Jakarta sendirian naik bus," terang ibu Nazwa, Lilis.

Kini, keduanya dibawa oleh tim Kemensos menuju tempat penampungan sementara di GOR Kecamatan Tanah Abang, Jakpus. Saat ini, tim Kemensos sedang mengkaji hasil asesmen Nazwa. Nantinya, Nazwa pun akan ditempatkan di Panti Sosial.

"Akhirnya ibu Kemensos ini memutuskan ngajak saya supaya tahu Nazwa ini sekolahnya di mana. Tapi sementara waktu masih COVID terus terang tidak bisa langsung ke asrama tadi di GOR, di sini," ungkap Lilis.

Kepada Kemensos, Nazwa pun mengutarakan keinginannya melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Sebab, ijazah terakhir yang dimilikinya hanya ijazah SD.

"Iya. karena aku berpikirnya sayanglah kalau nggak sekolah karena kan masih punya ortu yang harus dibahagiain, punya adik juga. Pengennya sih bisa membahagiakan ortu, merubah nasiblah gitu kan bisa gapai cita-cita biar nggak berterus-terusan hidup kayak gini, pengen jadi orang sukseslah biar jadi orang terpandang," tutur Nazwa.

Nazwa menceritakan sederet prestasinya selama bersekolah. "Prestasinya juara 1 tingkat kabupaten waktu di SD kelas enam itu saya ikut lomba matematika, KSN, kompetisi sains madrasah," ucapnya.

(isa/isa)