Saksi Akui Terima Uang dari Kontraktor Penyuap Eks Anggota BPK Rizal Djalil

Zunita Putri - detikNews
Senin, 04 Jan 2021 16:59 WIB
Eks anggota BPK Rizal Djalil jalani sidang perdana terkait kasus korupsi proyek SPAM di Kemen PUPR. Rizal Djalil ikuti sidang perdana itu secara virtual.
Sidang eks anggota BPK Rizal Djalil (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Saksi bernama Mochammad Natsir, yang saat ini menjabat Pejabat Fungsi Utama Pengembangan Konstruksi Kementerian PUPR, mengakui pernah menerima uang dari salah satu penyuap mantan anggota BPK, Rizal Djalil, Misnan Minskiy. Natsir mengaku menerima uang sebesar USD 5.000 yang saat itu nominalnya senilai Rp 50 juta.

Hal itu dikatakan Natsir saat bersaksi dalam sidang terdakwa Rizal Djalil terkait proyek pembangunan sistem penyediaan air minum (SPAM) di Kementerian PUPR di PN Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (4/1/2021). Natsir mengaku pernah diserahkan uang dua kali, namun yang pertama ditolak.

Pada pemberian pertama yang memberikan uang itu adalah teman Rizal Djalil yang saat itu Komisaris Utama PT Minarta Dutahutama, Leonardo Jusminarta Prasetyo, pemenang proyek SPAM PUPR. Leonardo menyerahkan amplop dan ditolaknya.

"Iya emang ketemu saya akhir tahun 2017, atau awal 2018 dan saat itu Pak Leo bermaksud berikan amplop kecil cokelat, kemudian karena saya perkirakan dalamnya uang, saya tolak, saya katakan 'tak usah, simpan saja, nanti kalau ada kegiatan PUPR butuh sponsor, silakan jadi sponsor aja'," kata Natsir menirukan percakapan saat itu.

Natsir mengaku yakin amplop itu isinya uang karena amplop itu diserahkan saat setelah Leonardo menandatangani kontrak proyek SPAM PUPR. Dalam pertemuan itu, Leo juga mengatakan proyek berjalan dengan lancar.

Penerimaan uang terjadi pada pertemuan kedua. Saat itu bukan Leo yang menyerahkan tapi Misnan Miskiy selaku Direktur Teknis dan Pemasaran PT Minarta Dutahutama yang menyerahkan uang ke Natsir sebesar USD 5.000. Natsir menerima uang itu.

"Pak Misnan 2 kali bertemu di akhir 2017, menyampaikan ada kendala kegiatan karena biaya untuk survei MC0 tidak tersedia di Satker. Kemudian saya katakan akan koordinasikan Pak Rahmat Budi (Kasatker SPAM) supaya nggak terlambat. Kedua, saya nggak ingat kira-kira Juni 2018 Pak Misnan laporkan kegiatan berjalan baik, pada intinya dia berikan amplop juga yang kemudian saya ketahui isinya uang sebesar USD 5.000, dan saya menyesal telah khilaf, tapi uang tersebut saya sudah serahkan ke KPK pada tanggal 31 Januari 2019," kata Natsir.

"(Rupiah) sekitar Rp 50 juta. Saya terima, dan saya sudah serahkan ke KPK pada 31 Januari 2019," tambahnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2