Berbekal Kartu JKN-KIS, Maria Tak Pusing soal Biaya Terapi Cuci Darah

Angga Laraspati - detikNews
Kamis, 31 Des 2020 13:40 WIB
BPJS Kesehatan
Foto: Dok. BPJS Kesehatan
Jakarta -

Hemodialisa merupakan terapi cuci darah di luar tubuh yang umumnya dilakukan oleh pengidap masalah ginjal yang sudah tak berfungsi dengan baik. Hemodialisa dilakukan bila penyakit ginjal sudah sangat parah yaitu ketika ginjal tak sanggup lagi bekerja dengan optimal.

Salah satu pengidap Hemodialisa adalah anak dari Maria De Clara Pama (57) yang rutin melakukan hemodialisa di salah satu rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Maria begitu sapaannya, mengatakan untuk setiap kali melakukan tindakan cuci darah, diperlukan biaya yang tidak sedikit.

Untuk satu kali cuci darah, diketahuinya memerlukan biaya hingga jutaan rupiah, biaya tersebut belum termasuk biaya lainnya apabila memerlukan obat-obatan tambahan atau perawatan tambahan lainnya.

"Anak saya rutin menjalani cuci darah 2 kali dalam seminggu. Untuk biayanya, satu kali melakukan cuci darah pasti bisa sampai jutaan," ungkap Maria dalam keterangan tertulis, Kamis (31/12/2020).

Maria yang juga merupakan salah satu peserta JKN-KIS menuturkan sempat merasa khawatir akan biaya yang timbul atas pengobatan penyakit sang anak. Namun, kekhawatiran itu perlahan sirna karena ia dan keluarga telah terdaftar sebagai peserta JKN-KIS, sehingga seluruh biaya tindakan cuci darah yang dijalani anaknya dijamin penuh Program JKN-KIS.

"Kalau tidak dijamin oleh BPJS Kesehatan, mungkin sudah lama anak saya tidak berobat karena tidak memiliki cukup biaya. Beruntung ada Program JKN-KIS, selama menjalani cuci darah menggunakan KIS, kami tidak pernah sekalipun membayar, semuanya gratis," katanya.

Maria pun sangat bersyukur karena ia tak perlu memikirkan biaya pelayanan kesehatan lagi, apalagi suaminya sudah tiada dan dirinyalah yang harus menggantikan peran sang suami untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

"Jika saya hitung-hitung, mungkin sudah puluhan juta rupiah biaya yang dikeluarkan BPJS kesehatan untuk pengobatan anak saya," ujar Maria.

Ia mengatakan walaupun ada anggota keluarganya yang belum pernah menggunakan kartu JKN-KIS, namun iurannya tetap ia bayarkan. Menurutnya, dengan menerapkan pola seperti itu, dirinya sudah menerapkan prinsip gotong royong yang digunakan BPJS Kesehatan dalam menjalankan Program JKN-KIS.

"Di sinilah bentuk gotong royong dari Program JKN-KIS, iuran peserta yang sehat membantu pengobatan peserta yang sakit," pungkas Maria

(akn/ega)