Catatan Bakamla 2020: Kecelakaan Laut Meningkat-Kekuatan SDM Masih 30-40%

Muhammad Ilman Nafian - detikNews
Rabu, 30 Des 2020 11:26 WIB
Kepala Bakamla Laksdya Aan Kurnia
Kepala Bakamla Laksdya Aan Kurnia (Rakean R Natawigena/20detik)
Jakarta -

Sejumlah catatan akhir tahun 2020 disampaikan Badan Keamanan laut (Bakamla). Kepala Bakamla Laksamana Madya (Laksdya) Aan Kurnia mengatakan, selama 2020, ada sejumlah sektor yang mengalami kenaikan dan penurunan keamanan di laut Indonesia.

"Kondisi keselamatan dan keamanan maritim saat ini, bila dibandingkan dengan 2019, ada yang mengalami penurunan dan ada yang mengalami kenaikan. Namun secara umum terjadi kenaikan kerawanan yang dapat dilihat dari rekapitulasi tahun 2020 yang meningkat dibandingkan tahun 2019. Ini mungkin karena situasi COVID dan sebagainya," ujar Aan dalam acara konferensi pers capaian kinerja Bakamla RI tahun 2020 secara virtual, Rabu (30/12/2020).

Selama 2020, Bakamla telah memeriksa 1.018 kapal dan memproses 24 kapal. Aan mengatakan mayoritas yang diperiksa itu merupakan kapal berbendera Indonesia.

"Jadi kami meriksanya cukup banyak, tapi banyak kapal yang berbendera Indonesia karena kesalahan administrasi. Ini hanya kita peringatkan, dan kita kasih warning saja untuk pembinaan," ucapnya.

Sedangkan untuk keselamatan laut, Bakamla mencatat terjadi peningkatan kecelakaan selama 2020 dibanding 2019. Kecelakaan laut pada 2020 tercatat ada 400 kali, sedangkan pada 2019 ada 300 kecelakaan.

"Bila dibandingkan dengan tahun 2019, ada kecenderungan peningkatan angka kecelakaan pada 2020," katanya.

Aan menjelaskan kecelakaan laut itu mayoritas disebabkan faktor human error. Hal itu disebabkan kurang cakapnya dalam membaca cuaca serta kurangnya melakukan perawatan mesin.

"Mayoritas kecelakaan laut disebabkan oleh faktor cuaca, seperti gelombang laut yang besar. Tetapi akar permasalahan berpotensi dominan disebabkan oleh human error, faktor manusianya itu sendiri, kurang cakap dalam membaca cuaca, pemeliharaan permesinan, serta kurang waspada sehingga mengakibatkan kapasitas muat menjadi akar masalah dari penyebab kecelakaan di laut," ucapnya.

Lebih lanjut Aan menyebut wilayah Selat Malaka dan Laut Natuna Utara masih rawan illegal, unreported and unregulated (IUU). Sementara itu, untuk kerawanan kegiatan penyelundupan terjadi di sepanjang pesisir Indonesia.

"Secara umum tingkat kerawanan tinggi terjadi sepanjang Selat Malaka sampai Laut Natuna Utara, khususnya untuk pelanggaran (IUU) fishing. Sedangkan penyelundupan kerawanan merupakan kerawanan tertinggi dan tersebar merata di sepanjang pesisir Indonesia," katanya.

Aan kemudian menyoroti kualitas sumber daya manusia (SDM) di Bakamla. Menurutnya, kualitas SDM berada di angka 30-40 persen.

"Kekuatan SDM masih antara 30-40 persen, tapi kita dengan keterbatasan ini kita mengolah bagaimana taktik, bagaimana strategi untuk bisa hadir di daerah yang memang kita perlu hadir," katanya.

Dalam kesempatan itu, Aan berharap omnibus law RUU Keamanan Laut dapat masuk Prolegnas pada 2021. Sebab, pada 2020, omnibus law Keamanan Laut dikeluarkan pada Prolegnas.

"Tahun 2020 harusnya masuk ke Prolegnas, cuma ternyata kemarin keluar tidak menjadi prioritas lagi, tapi saya tetap berkomunikasi dengan Menko Polhukam. Kemudian saya juga sudah menghadap ke Menkum HAM untuk mendorong proses ini. Ya mudah-mudahan paling nggak 2021 ini bisa menjadi Prolegnas," imbuh Aan.

(man/tor)