Sosialisasi 4 Pilar, Wakil Ketua MPR Ingatkan Santri soal Peran PDRI

Inkana Putri - detikNews
Senin, 21 Des 2020 19:24 WIB
Hidayat Nur Wahid
Ilustrasi. Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mengingatkan kembali peran santri dalam membela dan mempertahankan Negara Indonesia Merdeka, khususnya saat lahirnya Hari Bela Negara. HNW mengatakan Hari Bela Negara merupakan keputusan yang diambil di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Adapun hari tersebut diperingati sebagai pengingat atas pembelaan dan penyelamatan eksistensi Negara Indonesia Merdeka, melalui deklarasi Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada 19 Desember 1948.

Pada saat itu, HNW menjelaskan Belanda telah menguasai ibu kota negara di Yogyakarta dan sejumlah pimpinan nasional seperti Presiden Soekarno dan Wapres Hatta. Kolonialis Belanda pun menyebarkan propaganda tentang kembalinya Indonesia ke penguasaan Belanda.

"Saat itu, tampillah Mr Sjafruddin Prawiranegara yang membela dan menyelamatkan Negara Indonesia Merdeka, dengan mendeklarasikan dan memimpin PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia)," ujar HNW dalam keterangannya, Senin (21/12/2020).

Hal tersebut ia sampaikan dalam sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, Minggu (20/12).

Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menjelaskan peran Sjafruddin merupakan dasar bagi SBY untuk menetapkan Hari Bela Negara berdasarkan Keppres No. 18 Tahun 2006.

"Itu apresiasi negara atas jasa kalangan santri yang kembali sukses menyelamatkan dan membela Indonesia dari makar penjajah Belanda. Peran yang sebelumnya juga dilakukan oleh Pimpinan NU dan Muhammadiyah saat selamatkan Proklamasi serta Pancasila dengan menyetujui perubahan sila 1 Pancasila pada 18 Agustus 1945, juga peran Pendiri NU (KH Hasyim Asyari) dan Muhammadiyah (Ki Bagus Hadikusumo). Yang sesudahnya juga dilakukan oleh M Natsir (Ketua Fraksi Partai Islam Masyumi di DPR RIS dan waketum Persis melalui mosi integral pada 3 April 1950), selamatkan Indonesia dari RIS kembali menjadi NKRI," jelasnya.

Menurutnya, peristiwa tersebut perlu diingatkan agar para santri dan pesantren tak mempunyai penghalang psikologis maupun hambatan theologis untuk melanjutkan peran bersejarah itu. Dengan begitu, para santri bisa tampil ke depan menjadi generasi unggul yang berani bekerja sama dengan seluruh elemen bangsa.

Terkait hal ini, ia meminta para santri dapat efektif membela negara dalam menghadapi masalah negara, sekarang maupun ke depan. Melalui peran monumental ini, ia juga berharap para santri bisa mengoreksi islamophobia, yang membuat saling curiga dan adu domba dengan sesama anak bangsa.

"Kita perlu menyegarkan ingatan kolektif soal peran santri seperti ini. Agar para santri dan dunia pesantren tidak asing atau diasingkan, supaya berani mengambil posisi melanjutkan peran ulama terdahulu yang berjasa membela serta mengawalnya agar Negara Indonesia dan pimpinan serta kebijakannya tetap merdeka. Tidak dibelokkan sehingga malah bertentangan dengan cita-cita Indonesia Merdeka, sebagaimana disepakati oleh bapak/ibu bangsa, yang di dalamnya ada santri ulama pimpinan ormas dan orpol Islam," tandasnya.

Soal Hari Bela Negara, HNW menyayangkan banyak para pihak yang belum memahami latar belakang dan konteks lahirnya hari penting tersebut.

"Jarang sekali yang mengaitkan Hari Bela Negara dengan jasa Mr Sjafruddin (seorang santri, dari Partai Islam Masyumi). Padahal diyakini oleh banyak peneliti, tanpa PDRI tidak ada NKRI. Justru, lagi-lagi persekusi terhadap sebagian ulama, dan fitnah/ketidakadilan terhadap sebagian komunitas santri yang sering kita saksikan belakangan ini," tambahnya.

HNW menuturkan santri dan pesantren memiliki potensi yang besar. Hal ini mengingat berdasarkan data Kementerian Agama jumlah santri saat ini mencapai 40 jutaan orang. Ia mengatakan seharusnya negara dapat merangkul santri dengan menjalin komunikasi dan kooperasi yang konstruktif.

Seperti halnya melalui sosialisasi Sosialisasi 4 MPR RI seperti yang dilakukan pihankany. Dengan begitu, santri bisa menjadi mitra yang melanjutkan peran bersejarah dalam membela dan menyelamatkan negara dari berbagai ancaman dan tantangan.

"Dalam konteks saat ini, ancaman yang nyata adalah dekadensi moral, ketidakadilan, adu domba, narkoba, komunisme, terorisme, separatisme, liberisme, korupsi, dan darurat kesehatan bahaya pandemi COVID-19. Para santri dan pesantren penting dipedulikan dan dibantu mengatasi COVID-19, dan dilibatkan untuk berperan serta lakukan pembelaan dan pengawalan negara dalam mengatasi berbagai ancaman termasuk pandemi COVID-19. Ini sekaligus meneruskan peran santri terdahulu dengan konteks yang berbeda, tetapi tujuan yang sama, menyelamatkan dan membela eksistensi NKRI sebagai negara merdeka; bersatu berdaulat, adil dan makmur," pungkasnya.

(prf/ega)