Jadikan Kota Nol Karbon Lewat Inovasi Interstitial, Apa Itu?

Angga Laraspati - detikNews
Jumat, 18 Des 2020 13:58 WIB
JDCN
Foto: JDCN-Global Lead Air Quality of World Resources Institute (WRI) Jessica Seddon
Jakarta -

Global Lead Air Quality of World Resources Institute (WRI) Jessica Seddon mengatakan dalam menanggapi perubahan lingkungan dan memastikan sebuah kota berada di jalur menuju nol karbon adalah dengan inovasi. Salah satu inovasi yang bisa menjadi acuan dari sebuah kota adalah Inovasi Interstitial yang kini dikembangkan oleh Jessica Seddon dan juga WRI.

Jessica mengatakan inovasi interstitial adalah sebuah inovasi yang mempermudah kebijakan untuk para lembaga di sektor publik untuk dapat bergerak menuju pengelolaan dan pengarahan dengan memanfaatkan konektivitas yang saling berhubungan satu sama lain.

Inovasi yang dikembangkan oleh Jessica dan timnya ini mengenali banyak sistem pemerintahan tentang perubahan iklim yang telah dibangun. Sebagian besar spesialisasi teknis dibangun dari waktu ke waktu tersebut belum tentu cocok untuk dunia yang saling terhubung. Sehingga ia menyebutkan salah satu kunci untuk menemukan koneksi dalam menjadikan sebuah kota nol karbon adalah membangun sebuah kolaborasi.

Jessica pun menjabarkan beberapa contoh dalam membangun sebuah koneksi yang ada pada inovasi interstitial tersebut. Salah satunya adalah pepohonan atau hutan yang mempunyai banyak cara yang berbeda untuk melihat fungsi sebuah pepohonan.

"Kamu bisa melihatnya sebagai komoditas untuk mengekstraksi kayu sebagai bahan bangunan, atau juga sebagai mediator aliran air, pohon juga bisa berfungsi sebagai penahan tanah untuk tetap menjaga lahan basah tetap hidup. Tapi sebenarnya pohon juga bisa menjadi sumber kesehatan mental dan sudah banyak penelitian tentang kontribusi pohon untuk kesehatan mental dan fisik," ungkap Jessica dalam forum JDCN yang digelar secara virtual, Jumat (18/12/2020).

Lebih lanjut, Jessica menuturkan WRI melihat pohon sebagai suatu dimensi lain yang dapat membantu masyarakat. Salah satunya yang telah dilakukan adalah hutan kota dan program tersebut sudah diadaptasi oleh Jakarta dalam memetakan partisipatif pohon untuk membantu warga Jakarta.

"Berbagai lembaga dari air hingga perencanaan urban melihat keterkaitan dan kontribusi ruang hijau ke berbagai dimensi kota dan saya pikir program seperti ini di mana kita dapat menyatukan dan mampu mengumpulkan masyarakat serta melihat beberapa dimensi dari satu titik masuk terlihat sangat penting," imbuh Jessica.

Selain itu, salah satu poin penting lainnya di dalam interstitial innovation adalah tentang kualitas udara. Adapun akar penyebab polusi yang sering kali terjadi di berbagai kota besar adalah tertanam hal-hal seperti memasak, pemanas, penerangan, daya yang dibutuhkan untuk pembangunan ekonomi seperti industri sangat mempengaruhi kualitas udara.

"Jadi dengan itu saya akan mengatakan bahwa kunci ketahanan lingkungan tidak hanya memikirkan kembali iklim dan keberlanjutan kita tetapi memikirkan kembali cara kita mengatur diri kita sendiri dimulai dengan sesuatu yang nyata. Apakah pohon air yang dapat kita lihat tetapi melihat Akar yang lebih dalam melintasi ruang dan waktu geografis," pungkas Jessica.

(ega/ega)