ADVERTISEMENT

Ini Peran 2 Pelaku Penipuan Modus E-Mail Bisnis yang Rugikan Perusahaan Belanda

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Rabu, 16 Des 2020 16:42 WIB
Kabareskrim Polri Komjen Listyo Sigit memimpin konferensi pers pengungkapan kejahatan modus business email compromise
Jumpa pers kasus penipuan internasional modus e-mail bisnis. (Kadek/detikcom)
Jakarta -

Bareskrim Polri menangkap dua tersangka kasus penipuan internasional dengan modus business e-mail compromise (BEC), berinisial UDEZE alias Emeka dan Hafiz. Mereka berperan membuat dokumen fiktif dan berpura-pura menjadi direktur sebuah perusahaan fiktif.

"Dari kegiatan tersebut, maka Bareskrim Polri kemudian berhasil mengamankan tersangka atas nama UDEZE alias Emeka dan tersangka lain berhasil diamankan yaitu tersangka Hafiz yang bertugas untuk membuat dokumen fiktif dan seolah-olah menjadi direktur perusahaan fiktif tersebut dan kemudian dibantu oleh saudara Belen alias Dani dan Nurul alias Iren," kata Kabareskrim Komjen Listyo Sigit Prabowo saat konferensi pers di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (16/12/2020).

Sigit menuturkan dua tersangka menjalankan aksi dengan cara mengirim e-mail palsu yang memberi informasi perubahan nomor rekening untuk pembayaran alat rapid test yang telah dipesan oleh korban. Akibat penipuan tersebut, korban yang merupakan warga negara (WN) Belanda mengalami kerugian Rp 52 miliar lebih.

"Modus operandi dilakukan dengan cara mereka mengirim email terkait dengan perubahan nomor rekening, terkait dengan rencana pembayaran untuk memesan rapid test COVID yang telah dipesan oleh WN belanda. Sehingga kemudian korban mentransfer dana ke rekening atas nama CP Bio sensor di mana ini perusahaan fiktif sejumlah USD 3.597.875 atau senilai Rp 52,3 miliar," tuturnya.

Sigit menyampaikan, terkait penipuan internasional modus e-mail bisnis ini, Bareskrim Polri sudah menangani 5 kasus lintas negara. Tiga kasus di antaranya terkait COVID-19 sedangkan dua kasus terkait transfer dana dan investasi.

"Terkait dengan kejahatan ini Bareskrim telah menangani 5 kasus melibatkan lintas negara. 3 kasus terkait dengan COVID-19 dan 2 kasus terkait transfer dana dan investasi," ujarnya.

"Terkait dengan COVID itu, negara Italy, Belanda, dan Jerman. Sedangkan terkait dana dan investasi, Argentina dan Yunani," lanjutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT