Perjuangan Penyintas Corona Melawan Ketakutan Dikucilkan

Elza Astari Retaduari - detikNews
Selasa, 15 Des 2020 19:37 WIB
RSDC Wisma Atlet
Foto: Ocha, penyintas Corona saat akan pulang karantina dari RSDC Wisma Atlet. (Dok Istimewa).
Jakarta -

Tak pernah terpikirkan di benak Ocha dirinya ikut terpapar COVID-19. Setelah berhasil sembuh dari penyakit itu, ia juga harus berjuang melawan stigma masyarakat terhadap penyintas Corona.

"Sebenarnya pukulan berat untuk aku dan keluarga ya menjadi penderita COVID. Karena kami itu termasuk yang ketat sekali dengan protokol kesehatan," ujar Ocha dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (15/12/2020).

Ocha terinfeksi virus Corona bersama keluarganya. Hanya keponakannya yang masih bayi dinyatakan negatif Corona.

"Nenekku, aku, orang tuaku, kakakku dan suaminya kita positif Corona. Padahal kita jarang sekali keluar sejak awal pandemi," kata Ocha.

Sekeluarga Ocha akhirnya memutuskan untuk melakukan karantina di Rumah Sakit Darurat Covid (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat. Sementara sang keponakan dititipkan ke tetangganya.

"Sedih banget waktu kita pisah sama ponakanku. Kami bersyukur masih ada orang-orang baik yang membantu," cerita Ocha.

Awalnya, Ocha dan keluarga merasa sangat terbebani terpapar virus Corona. Apalagi banyak berita soal pasien-pasien COVID yang menderita cukup serius.

"Selama ini yang ada di bayangan jika mendengar 'COVID-19' adalah hanya tentang kengerian. Tapi setelah saya sendiri menjadi penderita COVID, bayangan itu berubah," ucapnya.

Memutuskan melakukan karantina di Wisma Atlet dianggap sebagai sebuah keputusan yang tepat. Ocha menyebut, kehadiran sesama pasien Corona menjadi penyemangat untuknya.

"Karena kita di pusat karantina itu jadi ngerasa ada teman senasib. Dan pertolongan tenaga kesehatan itu membuat kita yakin bahwa penyakit ini bisa disembuhkan," tutur Ocha.

Perempuan berusia 22 tahun ini sempat menutupi keadaannya yang positif Corona karena takut akan dijauhi lingkungan. Namun Ocha akhirnya memutuskan untuk terbuka menyatakan sebagai penderita Corona.

"Stigma masyarakat yang memandang pasien COVID-19 sebagai sebuah aib membuat kebanyakan pejuang Corona tutup mulut, bersembunyi dan menutupi kenyataan bahwa mereka sedang berjuang melawan COVID. Tapi hal itu tidak berlaku buat aku," ucapnya.

RSDC Wisma AtletRSDC Wisma Atlet Foto: (Dok Istimewa).

"Justru aku sangat ingin mengubah stigma buruk itu karena menerima kenyataan bawa kami positif saja sudah sangat berat, dan jika harus ditambah menanggung beban stigma masyarakat seakan membuat dunia kita runtuh. Padahal yang kami perlukan justru dukungan dari banyak orang tanpa judgment sehingga bisa pulih dengan cepat," imbuh Ocha.

Saat memutuskan untuk terbuka, Ocha mengaku merasa lebih baik. Ia malah mendapat banyak dukungan dari teman-teman dan kerabatnya.

"Aku malah dapat banyak dukungan dan doa. Dan itu ngebuat aku semangat untuk cepet sembuh. Aku nggak lagi takut karena menderita Corona kan bukan sebuah aib," sebut Ocha.

Ocha dan keluarga kini telah sembuh. Simak kisah lengkapnya di halaman sebelah.