Sisi Suram Perbatasan Aruk Sebelum Dibangunnya PLBN

Abu Ubaidillah - detikNews
Senin, 14 Des 2020 16:24 WIB
PLBN Aruk
Foto: Rengga Sancaya/detikcom
Sambas -

PLBN Aruk telah dibangun dengan megah dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2017 silam lengkap dengan akses jalan yang memudahkan masyarakat sekitar menuju ke mana-mana. Sebelum itu, akses jalan di sana masih berupa jalan setapak dari tanah liat dikelilingi pepohonan tinggi yang sulit dilalui. Apalagi jika hujan turun dengan deras, jalanan akan becek, digenangi air, dan makin sulit dilalui dengan jalan kaki sekalipun.

Sulitnya akses jalan di sana juga menjadi alasan warga setempat tak berkeinginan untuk memiliki kendaraan bermotor. Dahulu akses jalan juga menyulitkan aktivitas sehari-hari, tak terkecuali menabung.

Seperti kisah yang diceritakan oleh Petani Padi asal Kecamatan Sajingan Besar, Ating (61). Ia mengatakan dahulu jika mau menabung seseorang harus menuju ke Desa Sekura, Kecamatan Teluk Keramat yang jaraknya 83 km.

Enggan berjalan kaki sejauh 83 km, Artiah memilih jalur sungai menggunakan perahu yang dikayuh sendiri. Meski mungkin menjadi hal yang sangat sulit dilakukan, namun cara ini lebih banyak dipilih ketimbang harus berjalan kaki.

"Dulu pakai bekayuh (perahu yang dikayuh), seminggu pulang pergi, pakai perahu pakai dayung, itulah kita susah," kata Ating kepada detikcom belum lama ini.

Ating pun mengaku kerap menuju Desa Sekura, namun bukan untuk menabung melainkan hanya berbelanja bahan-bahan kebutuhan pokok di Pasar Desa Sekura. Mau tak mau tentu saja ia harus menginap di tengah hutan dalam beberapa hari.

Ia mengaku mendayung perahu bukan pekerjaan yang mudah, namun itu harus dilakukan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meski ada opsi untuk jalan kaki, namun karena jaraknya sangat jauh ia lebih memilih menyusuri sungai.

Hal ini pula yang juga dialami oleh Petani Karet asal Kecamatan Sajingan Besar, Mus Mulyadi (45). Ia juga harus menempuh waktu kurang lebih satu minggu untuk menuju Desa Sekura sehingga menabung menjadi hal yang sulit baginya.

PLBN ArukPLBN Aruk Foto: Rengga Sancaya/detikcom

"Dulu kalau menabung itu payah sekali, tahu yang namanya bank tahu bank ini bank itu tapi di mana bank tersebut? Baru-baru sekarang juga merasakan yang namanya bank itu ada," ungkap Mus.

Ia biasanya ke Desa Sekura untuk berbelanja barang-barang kebutuhan pokok. Di tengah perjalanan, Mus juga mengaku kerap menginap di tengah hutan dan membawa bekal untuk dimakan selama perjalanan.

Namun berbeda dengan sekarang. Seiring dengan diresmikannya PLBN Aruk pada 2017 dan didirikannya Kantor Unit BRI di Kecamatan Galing pada 2011, Ating dan Mus mengaku lebih mudah untuk bisa menabung di bank. Selain itu akses jalan pun sudah mulus dan bisa mempermudah transportasi warga.

"Sekarang nabung di BRI, saya sangat berterima kasih kepada bank BRI sangat memudahkan," kata Mus.

Ating dan Mus sama-sama baru menjadi nasabah Bank BRI di masa pandemi ini untuk mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Sebab mereka mengalami penurunan permintaan hasil panen sebagai dampak dari ditutupnya PLBN Aruk akibat pandemi.

Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), mempercantik kawasan perbatasan Indonesia dan Malaysia di Kalimantas Barat.Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), mempercantik kawasan perbatasan Indonesia dan Malaysia di Kalimantas Barat. Foto: Rengga Sancaya

Di ulang tahun yang ke-125 pada tahun ini, BRI hadir di perbatasan dengan tema BRILian memudahkan masyarakat melakukan transaksi perbankan, khususnya bagi masyarakat Kecamatan Galing dan Sajingan Besar. Dengan hadirnya Kantor Unit BRI, ATM, hingga Agen BRILink, masyarakat setempat semakin mudah melakukan transaksi perbankan.

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan khususnya di masa pandemi. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus beritanya di tapalbatas.detik.com.

(prf/ega)