Presiden Jokowi Disarankan Segera Reshuffle Kabinet Sebelum Terlambat

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Jumat, 11 Des 2020 15:40 WIB
Presiden Joko Widodo menyampaikan keterangan pers terkait penetapan Menteri Sosial Juliari P. Batubara sebagai tersangka
Presiden Jokowi (BPMI Setpres/Rusman)
Jakarta -

Isu reshuffle Kabinet Indonesia Maju kembali mengemuka menjelang akhir 2020. Presiden Joko Widodo (Jokowi) disarankan melakukan reshuffle sesegera mungkin.

"Tanggalnya terserah. Mau 23, mau 30, bebas saja gitu, karena itu kebutuhan. Lebih baik dilaksanakan segera daripada nanti terlambat dan legasi yang diharapkan Pak Jokowi tidak terjadi," ujar pengamat politik dari lembaga survei Kedai Kopi Hendri Satrio kepada wartawan, Jumat (11/12/2020).

Hendri menilai pelaksanaan reshuffle kabinet tidak akan membuat gaduh. Sebab, sambung Hendri , semua pihak sudah paham bahwa reshuffle kabinet merupakan hak prerogatif presiden.

"Tanggal berapa pun Pak Jokowi reshuffle, nggak akan bikin gaduh. Kenapa? Karena semua orang sudah paham itu hak prerogatif presiden. Jadi sesuai dengan kebutuhan dia saja. Nggak perlu ada menteri ditangkap KPK pun, kalau dia (presiden) mau reshuffle, ya reshuffle saja," jelas Hendri.

Hendri berpandangan, sekalipun timbul kegaduhan akibat reshuffle kabinet, kegaduhan hanya akan terjadi di lingkup elite politik saja. Menurutnya, kegaduhan hanya akan berlangsung dalam skala kecil.

"Dan kegaduhan nggak akan terjadilah. Kegaduhan pun adanya hanya di, kalaupun ada, itu paling hitungan 'menit'. Dan itu hanya sebatas elite politik saja. Tapi rakyat pasti akan menerima dan banyak, politik sudah paham kok bahwa reshuffle itu kebutuhan. Jadi, kalau memang presiden butuh, laksanakan saja," ucapnya.

"Lagi pula yang gaduh itu kan kepentingannya cuma politik. Dia nggak ada kepentingan untuk tujuan akhir pembangunan tuh nggak ada. Gaduh saja cuma buat gangguin presiden," sambung Hendri.

Lebih lanjut Hendri menganalogikan Kabinet Indonesia Maju dengan tim sepakbola. Menurutnya, jika ada pemain yang bertanding dengan tidak baik, perlu dilakukan pergantian pemain.

"Nah, tujuannya reshuffle itu kan sebetulnya memacu kinerja yang sudah ditetapkan oleh presiden, kan. Jadi kalau memang timnya lagi nggak oke, ya mesti diganti. Kan dibandingkan dengan sepakbola. Kalau penyerangan gagal, pertahanan gagal, kan mesti ada pergantian pemain. Kan itu hal yang sederhana," jelasnya.

Hendri SatrioPengamat politik Hendri Satrio (Ari Saputra/detikcom)