Korupsi Proyek Fiktif, 5 Eks Pejabat Waskita Didakwa Rugikan Negara Rp 202 M

Zunita Putri - detikNews
Kamis, 10 Des 2020 17:26 WIB
Korupsi Proyek Fiktif, 5 Eks Pejabat Waskita Didakwa Rugikan Negara Rp 202 M
Korupsi proyek fiktif, 5 eks pejabat Waskita Didakwa rugikan negara Rp 202 miliar. (Zunita/detikcom)

Menindaklanjuti arahan Desi Arryani, Jarot Subana dan Fakih Usman serta Haris Gunawan meminjam perusahaan milik mereka untuk melakukan pekerjaan subkontraktor fiktif pada Divisi Sipil/Divisi III/Divisi II PT Waskita Karya. Selain Haris, kontraktor lain seperti Doni Parwoto, PT Safa Sejahtera Abadi, CV Dwiyasa Tri Mandiri, PT Mer Engineering juga ikut disodorkan agar terlibat dalam proyek itu, dan disetujui oleh Desi Arryani.

Kemudian dibuatlah kesepakatan fee untuk perusahaan subkontraktor sebesar 1,5-2,5 persen dari nilai kontrak yang ditetapkan masing-masing kepala proyek. Setelah itu, masing-masing staf kepala proyek membuat syarat administrasi kontrak seperti penawaran harga, berita acara negosiasi dan data pembanding yang kemudian diparaf oleh Desi Arryani.

Singkat cerita, setelah rencana penyusunan berkas dan kesepakatan fee rampung, jaksa mengatakan PT Waskita Karya di bawah Desi Arryani menyetujui 21 kontrak pekerjaan fiktif pada kurun 2009-Mei 2011. Sebanyak 21 kontrak fiktif ini dihubungkan dengan 14 proyek utama yang sudah dikerjakan PT Waskita pada 2010-2013.

"Bahwa sesuai dengan hasil pembahasan dalam rapat-rapat moving-in yang membahas mengenai strategi penghimpunan dana nonbudgeter tersebut, bagian Divisi Sipil/Divisi III/Divisi II PT Waskita Karya pada kurun waktu tahun 2009 sampai bulan Mei tahun 2011 telah menandatangani 21 kontrak pekerjaan subkontraktor fiktif yang dibuat dan diajukan oleh Para Terdakwa yang melekat pada 14 kontrak pekerjaan utama yang dikerjakan oleh PT Waskita Karya dan telah direalisasikan pencairannya," ucapnya.

Kemudian proyek kontrak fiktif itu kembali berlanjut pada 21 Juli 2011. Saat itu Desi Arryani sudah tidak menjabat lagi sebagai Kadiv Sipil/Divisi III/Divisi II PT Waskita Karya, yang menggantikan adalah Fathor Rachman, yang juga merupakan terdakwa di kasus ini.

Dalam proyek fiktif jilid II ini barulah Fathor mengajak terdakwa lain, seperti Jarot Subana dan Yuly Ariandi Siregar. Proyek fiktif kedua ini yang ditandatangani Fathor sebanyak 20.

Dalam proyek fiktif kedua ini Fathor menunjuk PT Aryana Sejahtera agar dapat sebagai subkontraktor fiktif pada proyek-proyek yang dikerjakan oleh Divisi Sipil/Divisi III/Divisi II. Selanjutnya PT Aryana Sejahtera masuk sebagai subkontraktor fiktif menggantikan CV Dwisaya Tri Mandiri atas rekomendasi dari Fathor.

"Selanjutnya guna kembali menghimpun dana nonbudgeter tersebut dengan menggunakan mekanisme yang sama seperti sebelumnya, bagian Divisi II PT Waskita Karya kembali membuat 20 kontrak pekerjaan subkontraktor fiktif yang diajukan atas sepengetahuan Para Terdakwa yang melekat pada 14 kontrak pekerjaan utama yang dikerjakan oleh PT Waskita Karya dan sudah direalisasikan pencairannya," ucap jaksa.

Jaksa menyebut total proyek fiktif yang dilakukan oleh lima terdakwa ada 41 dengan nilai Rp 239 miliar. Menurut jaksa, para subkontraktor yang mendapat uang itu tidak pernah mengerjakan proyek sebagaimana tercantum di kontrak mereka dengan PT Waskita Karya.

"Bahwa atas 41 kontrak pekerjaan fiktif senilai Rp 239.350.242.837,70 tersebut, PT Waskita Karya telah melakukan pembayaran sejumlah Rp 204.969.626.980,00 kepada PT Safa Sejahtera Abadi, CV Dwiyasa Tri Mandiri , PT Mer Engineering dan PT Aryana Sejahtera, meskipun perusahaan-perusahaan tersebut tidak pernah melaksanakan pekerjaan sebagaimana tercantum dalam kontrak," ungkap jaksa KPK.

Adapun rincian realisasi pembayaran oleh PT Waskita Karya kepada keempat perusahaan subkontraktor sebagai berikut:

- PT Safa Sejahtera Abadi, jumlah kontrak 16, nilai kontrak Rp 127.944.496.783,90, realisasi pembayaran Rp 111.922.833.343
- PT Aryana Sejahtera, jumlah kontrak 16, nilai kontrak Rp 44.339.848.135, realisasi pembayaran Rp 38.514.044.260
- CV Dwiyasa Tri Mandiri, jumlah kontrak 7, nilai kontrak Rp 47.189.997.918,80, realisasi pembayaran Rp 38.355.503.195
- PT Mer Engineering, jumlah kontrak 2, nilai kontrak Rp 19.875.900.000, realisasi pembayaran Rp 16.177.246.182.

Oleh karena itu, jaksa KPK menilai proses pembuatan dan pembayaran 41 kontrak subkontraktor fiktif dan penunjukan 4 perusahaan PT Safa Sejahtera Abadi, CV Dwiyasa Tri Mandiri, PT Mer Engineering, dan PT Aryana Sejahtera bertentangan melawan hukum.

Akibat dari tindakan itu, kelima terdakwa didakwa melanggar Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 juncto Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tipikor juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP juncto Pasal 65 ayat 1 KUHP.


(zap/ibh)