Beredar Foto Surat Suara Dicoret 'Korup Lu Pada', Ini Kata KPU Tangsel

Luqman Nurhadi Arunanta - detikNews
Kamis, 10 Des 2020 12:24 WIB
Penghitungan suara Pilakda Tangereng Selatan dimulai. Salah satunya di TPS 46, Pakujaya, Serpong Utara. Ini foto-fotonya.
Surat suara Pilkada Tangsel yang tidak dicoret. (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Beredar foto surat suara Pilkada Tangerang Selatan (Tangsel) 2020 dicoret-coret dengan tulisan 'Korup Lu Pada'. KPU Kota Tangsel membenarkan adanya foto tersebut.

"Saya konfirmasi ke KPPS foto tersebut benar adanya," kata Komisioner KPU Tangsel Mujahid Zein saat dimintai konfirmasi, Kamis (10/12/2020).

Surat suara itu ditemukan di TPS 47 Rempoa, Ciputat Timur, Tangsel. Mujahid menyebut surat suara itu ditemukan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) saat proses penghitungan suara.

"Foto tersebut pada saat penghitungan surat suara," jelas Mujahid.

Selain tulisan 'Pada Korup Lu', gambar foto ketiga pasangan calon juga dipenuhi tulisan 'HAHAHA'. Mujahid menyebut panitia hanya menemukan satu surat suara yang dicoret.

"Cuma itu saja satu," ungkap Mujahid.

Diketahui, Pilkada Tangsel diselenggarakan Rabu (9/12) lalu. Pasangan Benyamin Davnie-Pilar Saga Ichsan unggul berdasarkan hasil hitung cepat atau quick count.

Sebelumnya diberitakan, Bawaslu RI sempat mendapatkan laporan soal berbagai kejanggalan saat pencoblosan. Di antaranya ada surat suara paslon tunggal ditempeli foto artis Korea.

"Nah, ini kejadian-kejadian unik menurut saya yang penting untuk kita sampaikan. Pemilih menempel gambar di kolom kosong pada surat suara paslon tunggal. Foto-foto nggak tahu itu. Artis kali ya, artis Korea itu," kata anggota Bawaslu, Mochammad Afifuddin, Rabu (9/12).

Selain itu, kejadian unik lain adalah pemilih memilih dengan melingkari ataupun mencontreng nomor pasangan calon. Hal itu diduga karena pemilih keliru saat mendengarkan imbauan agar membawa pulpen sendiri ke TPS.

"Ini kejadian yang menarik, di Jambi, Sumatera Barat. Imbauan ataupun anjuran KPU agar kita menggunakan atau membawa membawa apa namanya pulpen, kadang-kadang dipahami sebagai alat untuk mencontreng, padahal tidak. Nah, ini penting. Nah, ternyata itu disalahpahami, padahal kan kita tidak mengantisipasi untuk saling tidak pinjam pulpen menandatangani kehadiran dan lain-lain," kata Afif.

Simak juga video 'Warga Desa di Konawe Selatan Memilih Golput':

[Gambas:Video 20detik] (imk/imk)