SETARA Institute soal Polisi Tembak 6 Pengikut HRS: Jika Terancam, Dibenarkan

Audrey Santoso - detikNews
Senin, 07 Des 2020 19:51 WIB
Direktur Riset Setara Institute Halili Hasan.
Foto: Direktur Riset SETARA Institute Halili Hasan (Sachril/detikcom)
Jakarta -

SETARA Institute menilai penembakan yang dilakukan polisi terhadap pengikut Habib Rizieq Shihab hingga menewaskan 6 orang harus dipandang secara objektif. Jika aparat mendapat ancaman yang membahayakan keselamatan jiwanya, maka penembakan terhadap sosok yang mengancam keselamatan dinilai perbuatan yang benar.

"Merujuk pada peraturan perundang-undangan. Jika sesuatu terjadi pada situasi critical yang apabila aparatur kepolisan, aparatur negara berada dalam situasi ancaman, ya (penembakan) bisa dibenarkan," kata Direktur Riset SETARA Institute, Halili Hasan kepada wartawan, Senin (7/12/2020).

Halili mengatakan ada dua aspek yang perlu dideskripsikan dalam peristiwa ini. Aspek pertama yaitu sisi ketegasan aparat penegak hukum sisi kedua yaitu hak asasi manusia (HAM).

"Menurut saya, ada dua aspek yang menurut saya perlu didreskripsikan secara spesifik. Pertama kita mendukung setiap tindakan atau langkah yang dilakukan oleh pihak kepolisan untuk memastikan terwujudnya tertib sosial dan perlindungan, dan rasa aman manusia atau human security," tutur Halili.

"Tapi tindakan-tindakan itu harus dalam rangka otoritas demokratis yang bersifat terukur, sehingga tidak boleh tindakan-tindakan kepolisan itu diambil dengan cara melanggar hak asasi manusia dan otoritas yang diberikan oleh perundang-undangan, oleh aparatur negara," sambung dia.

Halili menilai pentingnya keterangan mengenai hasil forensik jenazah-jenazah pengikut Habib Rizieq. "Jadi dalam konteks ini, menurut saya penting untuk dilakukan audit forensik terhadap peristiwa jatuhnya korban dari kelompok yang disebut simpatisan Rizieq Shihab," ucap Halili.

Karena peristiwa ini menjadi sorotan, Halili berpendapat, polisi harus menunjukkan akuntabilitasnya. Halili juga menuturkan Propam juga dapat turun untuk menyimpulkan tak adanya pelanggaran dala peristiwa ditembaknya 6 anggota laskar FPI.

"Kemudian ada propaganda yang menyudutkan polisi. Saya cenderung melihat dalam perspektif kalau ada keraguan yang dilakukan oleh polisi, cara merespons yang bersifat produktif gampang adalah pastikan pertama akuntabilitas. Kedua, di internal kepolisian ada Propam yang bisa mengerjakan audit dan investigasi atas tragedi yang ada. Itu akan memberikan kejelasan apa yang dilakukan oleh kepolisian," tutur Halili.

Apa yang terjadi antara anggota Polda Metro Jaya dengan pengawal Habib Rizieq? Simak lanjutannya di halaman berikutnya.