Sebut Tewasnya 6 Pengikut HRS Pelanggaran HAM, FPI Minta DPR Bentuk TPF

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Senin, 07 Des 2020 18:42 WIB
Ratusan senpi Illegal berhasil diamankan Direskrium Polda Metro Jaya, Minggu (15/11/2015). Ratusan senpi dan para tersangka itu diamankan oleh pihak berwajib selama operasi dalam kurun waktu 3 bulan. Terlebih dengan maraknya ancaman dan penembakan pelaku kejahatan di Ibukota yang semakn meresahkan masyarakat. Rachman Haryanto/detikcom.
Ilustrasi senjata api jenis pistol. (Rachman Haryanto/detikcom)
Jakarta -
Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadil Imran Pangdam Jaya Mayjen Dudung Abdurachman, dan Brigjen Pol Hendra Kurniawan Karopaminal Divpropam Polri, menunjukkan barang bukti saat konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Senin (7/12/2020). Enam dari 10 pengikut Habib Rizieq Shihab tewas ditembak polisi di Tol Jakarta-Cikampek dini hari tadi. Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran mengatakan, keenam pengikut Habib Rizieq ditembak karena melakukan perlawanan. Berikut barang buktinya.Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran, Pangdam Jaya Mayjen Dudung Abdurachman, dan Karo Paminal Divpropam Polri Brigjen Hendra Kurniawan menggelar konferensi pers penembakan 6 pengikut Rizieq Shihab. (Agung Pambudhy/detikcom)

Front Pembela Islam (FPI) meminta Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) segera membentuk tim pencari fakta terkait ditembaknya 6 anggotanya oleh aparat. Pasalnya, FPI mencurigai kematian 6 orang yang sedang mengawal rombongan Habib Rizieq Shihab itu sebagai pembantaian yang masuk ke klasifikasi pelanggaran HAM berat.

"Kita masukan juga untuk bisa membuat tim pencari fakta dari DPR, dari seluruh instansi yang terkait agar supaya tim independen bisa segera dilaksanakan," ujar Ketua Umum FPI Ahmad Sobri Lubis di Sekretariat DPP FPI, Senin (7/12/2020).

Lebih lanjut, Sobri mengatakan tim pencari fakta ini dibutuhkan untuk meminimalkan kebohongan dalam peristiwa tersebut. Dengan demikian, fakta-fakta sebenarnya bisa terkuak.

"Bisa terlaksana dengan yang berwibawa, dengan banyak instansi, sehingga kita bisa melihat, meminimalisir celah-celah kebohongan. Jadi seperti itu. Insyaallah taala dengan tim pencari fakta independen, untuk bisa menguak bagaimana peristiwa yang sebenarnya," tuturnya.

"Walaupun kita sudah melihat bagaimana fitnahan-fitnahan yang ditujukan kepada FPI maupun laskar-laskar kami, itu semuanya kami tetap perlu untuk bisa terkonstruksikan dengan data-data dan bukti-bukti. Insyaallah ta'ala dengan keterbukaan dan juga dengan rasa keadilan. Insyaallah ta'ala," sambung Sobri.

Diberitakan sebelumnya, 6 dari 10 pengikut Habib Rizieq Shihab tewas ditembak polisi di Tol Jakarta-Cikampek (Japek) dini hari tadi. Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran mengatakan pengikut Habib Rizieq Shihab lebih dulu menyerang polisi dengan memepet kendaraan lalu menyetop kendaraan polisi, kemudian menodongkan senjata tajam serta senjata api.

"Sekitar pukul 00.30 WIB di jalan Tol Jakarta-Cikampek Km 50 telah terjadi penyerangan terhadap anggota Polri yang sedang melaksanakan tugas penyelidikan terkait rencana pemeriksaan MRS yang dijadwalkan berlangsung hari ini jam 10.00 WIB," jelas Fadil, didampingi Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman di Polda Metro Jaya, Jakarta, pagi tadi.

Fadil Imran menjelaskan, pihaknya melakukan penyelidikan setelah mendapat informasi adanya rencana pengerahan massa mengawal Habib Rizieq terkait pemeriksaan hari ini. Polisi kemudian menyelidiki informasi tersebut.

Sementara Front FPI membenarkan soal terjadinya insiden penembakan di tol seperti yang dijelaskan Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran. FPI menyebut kejadian tersebut sebagai peristiwa penghadangan terhadap rombongan Habib Rizieq Syihab (HRS) saat dalam perjalanan di tol.

"Bahwa benar ada peristiwa penghadangan, penembakan terhadap rombongan IB HRS dan keluarga serta penculikan terhadap 6 orang laskar pengawal IB. Peristiwa terjadi di dekat pintu Tol Kerawang Timur," kata Ketua Umum DPP FPI Ahmad Shabri Lubis dalam keterangan tertulis, Senin (7/12).

(aud/aud)