Sidang Kasus Djoko Tjandra

Jaksa Cecar Eks Ses NCB Interpol soal Surat Istri Djoko Tjandra

Zunita Putri - detikNews
Kamis, 03 Des 2020 21:47 WIB
Brigjen Nugroho Slamet Wibowo
Foto: Luqman Nurhadi Arunanta/detikcom

Slamet menyebut surat Anna Boentaran saat itu dibahas dalam rapat. Slamet juga mengaku diperintah Napoleon untuk membalas surat Anna Boentaran, dan menandatangani surat balasan itu.

Untuk diketahui, dalam dakwaan Djoko Tjandra, Anna Boentaran disebut bersurat ke Irjen Napoleon dikirim melalui Tommy Sumardi dan Brigjen Prasetijo. Surat itu dimaksudkan agar Divhubinter Polri menghapus red notice Djoko Tjandra.

"Untuk mewujudkan keinginan terdakwa Joko Soegiarto Tjandra, pada tanggal 9 April 2020, Tommy Sumardi mengirimkan pesan melalui WhatsApp berisi file surat dari saudara Anna Boentaran istri terdakwa Joko Soegiarto Tjandra yang kemudian Brigjen Prasetijo meneruskan file tersebut kepada Brigadir Fortes, dan memerintahkan Brigadir Fortes untuk mengeditnya sesuai format permohonan penghapusan red notice yang ada di Divhubinter. Setelah selesai diedit Brigadir Fortes mengirimkan kembali file tersebut untuk dikoreksi Brigjen Prasetijo, yang selanjutnya file konsep surat tersebut dikirimkan oleh Brigjen Prasetijo kepada Tommy Sumardi," kata jaksa saat membacakan surat dakwaan kala itu.

Duduk sebagai terdakwa di sidang ini adalah Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra. Djoko Tjandra didakwa bersama dengan Tommy Sumardi memberikan suap ke 2 jenderal polisi, yaitu Irjen Napoleon Bonaparte dan Brigjen Prasetijo Utomo.

Suap yang diberikan ke Irjen Napoleon sebanyak SGD 200 ribu dan USD 270 ribu. Bila dikurskan, SGD 200 ribu sekitar Rp 2,1 miliar, sedangkan USD 270 ribu sekitar Rp 3,9 miliar lebih, sehingga totalnya lebih dari Rp 6 miliar.

Lalu, suap kepada Brigjen Prasetijo sebesar USD 150 ribu. Bila dikurskan, USD 150 ribu sekitar Rp 2,1 miliar.

Halaman

(zap/fas)