Ulah JI Pakai Dana Kotak Amal di Minimarket untuk Terorisme Terungkap

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 01 Des 2020 14:54 WIB
Ilustrasi teroris (insert) (Luthfy Syahban/detikcom)
Foto: Ilustrasi teroris (insert) (Luthfy Syahban/detikcom)
Jakarta -

Sejumlah fakta terungkap usai penangkapan salah satu aset berharga Jamaah Islamiyah (JI), Taufik Bulaga alias Upik Lawanga. Polisi menyebut JI menyalahgunakan dana kotak amal di minimarket untuk kepentingan terorisme.

Upik Lawanga diketahui masuk dalam DPO Densus 88 Polri sejak 2006. Setelah lebih dari 10 tahun dicari, Densus 88 berhasil menangkapnya di Lampung Tengah, Provinsi Lampung, Senin (23/11/2020).

Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Awi Setiyono, mengatakan Upik Lawanga merupakan aset berharga Jamaah Islamiyah (JI) karena digadang-gadang menjadi penerus Azhari. Karena itu, Upik Lawanga disembunyikan JI dan kerap berpindah-pindah tempat.

"JI memiliki bidang Tholiah (pengamanan orang dan Asset) yang bersangkutan melarikan diri dari Poso pada tahun 2007 melalui jalur Makassar, Surabaya, Solo hingga menetap di Lampung," kata Awi, Senin (30/11/2020).

Awi kemudian menyampaikan tindak pidana terorisme yang dilakukan JI di Sulawesi Tengah, antara lain:

1. Pasca konflik Poso, pada tahun 2001 kelompok JI turun ke Poso untuk melakukan pelatihan militer (Tadrib Asykari) kepada pemuda-pemuda muslim Poso yang diberi nama Uhud 1, Uhud 2 dan Uhud 3. (Uhud: Nama Angkatan Pelatihan Militer);

2. Upik Lawanga dan Icang Alias Tengku merupakan peserta pelatihan militer yang dipimpin oleh Abu Tholud, Herlambang, Hasanudin dan Dr Agus. Saat itu Upik Lawanga di bai'at oleh Dr Agus Purwantoro (JI Jawa Timur);

3. Upik Lawanga dan Icang alias Tengku diutus ke Jawa oleh JI Wakalah Poso pimpinan Hasanudin untuk mempelajari ilmu pembuatan bom high explosive kepada kelompok Dr Azhari.

4. Setelah memiliki kemampuan membuat bom dan keterampilan militer seperti menembak, maka JI Wakalah Poso di bawah kendali JI Markaziyah mulai melakukan aksi amaliyah di wilayah Sulawesi Tengah;

5. Dari hasil penyidikan terungkap beberapa kasus-kasus besar tindak pidana terorisme yang melibatkan Upik Lawanga di Sulawesi Tengah sebagai berikut:

a. Tahun 2004 :
1) Pembunuhan Helmi Tembiling (Istri Anggota TNI AD di Sulteng);
2) Penembakan dan Pengeboman Gereja Anugrah pada 12 Desember 2004;
3) Bom Gor Poso pada 17 Juli 2004;
4) Bom Pasar Sentral pada 13 November 2004.

b. Tahun 2005 :
1) Bom Pasar Tentena pada 28 Mei 2005;
2) Bom Pura Landangan pada 12 Maret 2005;
3) Bom Pasar Maesa pada 31 Desember 2005.

c.Tahun 2006:
1) Bom Termos Nasi Tengkura pada 6 September 2006;
2) Bom Senter Kawua pada 9 September 2006;
3) Penembakan Sopir Angkot Mandale.

d. Tahun 2020:
1) Pembuatan Senjata Api Rakitan dan pembuatan Bunker;

"Tindak pidana terorisme yang dilakukan oleh UL selama berada di Poso telah mengakibatkan 27 orang saudara-saudara kita meninggal dunia, dan 92 orang mengalami luka-luka," kata Awi.

Simak juga video 'Habib Rizieq: Jangan Kaitkan Terorisme dengan Agama Apapun!':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2