IDI: Data Pasien Rahasia, Lab Wajib Lapor Dinkes soal Positif COVID-19

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Senin, 30 Nov 2020 05:46 WIB
Ilustrasi Tes Swab
Ilustrasi (Foto: Ilustrator: Mindra Purnomo)
Jakarta -

Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengatakan dokter dan rumah sakit wajib menjaga kerahasiaan data pasien yang positif Corona. Namun demikian, pihak laboratorium wajib menyampaikan data pasien tersebut kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk keperluan pelacakan atau tracing.

"Jadi kalau dalam hal itulah maka kewajiban dokter di rumah sakit untuk menjaga kerahasiaan. Tetapi juga kewajiban laboratorium rumah sakit untuk menyampaikan datanya ke Dinas Kesehatan itu biasanya dikerjakan. Dinas kesehatan kemudian kalau misalnya positif membuat telusur kontak," kata Ketua Satgas IDI, Zubairi Djoerban saat dihubungi, Minggu (29/11/2020).

Menurut Zubairi kerahasiaan data pasien itu diatur dalam undang-undang serta Peraturan Menteri Kesehatan. Berikut adalah aturannya:

1. Pasal 48 UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran
2. Pasal 7 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
3. Pasal 38 UU Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
4. Pasal 73 UU No 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan

"Mengenai Habib Rizieq kalau dari sisi dari ngumpulin massa tentu aku tidak setuju. Tapi kalau mengenai rumah sakit dipaksa membuka data itu tidak boleh, itu melanggar Undang-Undang, banyak sekali Undang-Undang ada 4 UU, 1 Permenkes yang terkiat dengan kewajiban dokter menjaga kerahasiaan dan juga rumah sakit itu memang tidak boleh membuka hasilnya Rizieq," kata dia.

Zubairi mengatakan, setelah menerima data pasien yang positif Corona dari laboratorium, Dinas Kesehatan wajib untuk melakukan pelacakan. Hal itu guna mengendalikan penyebaran.

"Tracing wajib dilakukan kalau positif, harus. Itu kewajiban dari Dinas Kesehatan. Kalau banyak banyak, nggak punya tenaga ya bisa banyak relawan direkrut, bisa dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, tentu mereka harus di-tranning dulu, dilatih dulu walaupun mereka tahu bahwa ada yang positif, walaupun mereka kontak tracing yang positif si A, si B mereka tidak boleh menyampaikan ke luar. Kecuali memang menyampaikan ke atasannya langsung, dan atasan harus keep untuk data sana," katanya.

Selanjutnya
Halaman
1 2