Jadi Jurkam Paslon Pilkada, UAS Disayangkan Masuk Pertarungan Kepentingan

Raja Adil Siregar - detikNews
Jumat, 27 Nov 2020 14:40 WIB
Ustaz Abdul Somad (UAS) meninggalkan gedung KPK. Ia mengatakan kehadirannya untuk mengisi tausiyah tentang penguatan mental di tubuh lembaga antirasuah itu.
Ustaz Abdul Somad (Ari Saputra/detikcom)
Pekanbaru -

Ustaz Abdul Somad (UAS) masuk tim kampanye pasangan calon (paslon) bupati dan wakil bupati Hafit-Erizal di Pilkada Rokan Hulu, Riau. Masuknya UAS di tim kampanye pun sangat disayangkan dan UAS disebut terjebak.

Pengamat politik Saiman Pakpahan menyebut semestinya UAS selaku ulama tidak terjun hingga masuk ke dalam tim kampanye salah satu calon. Sebab, menurutnya, tokoh agama seharusnya jadi orang yang berada di semua kalangan alias tidak berada di suatu kelompok tertentu.

"Harusnya ulama ya jadi ulama, bukan justru ikut terjun ke dalam pertarungan kepentingan," terang Saiman, yang juga dosen Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Riau, Jumat (27/11/2020).

Sebagai ulama yang menjadi panutan, Saiman menilai, UAS seharusnya tak masuk dalam tim kampanye. Apalagi dengan menyatakan dukungan terhadap salah satu calon yang maju pada Pilkada Serentak 2020.

"Motifnya bisa kita pahami, yakni untuk melakukan syiar Islam. Namun dengan cara mendorong orang tertentu yang dianggap sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan mereka. Sementara, jika berbicara agama, ya bisa saja. Sebab, semua calon beragama Islam," terang Saiman.

"Beliau seorang ustaz, tokoh yang sifatnya sebagai referensi semua kalangan. Tetapi kalau berdiri di salah satu calon, dia berada dalam sebuah partai, sehingga dia berada di luar konteks sebagai ustaz atau ulama," tambahnya.

Memang, lanjutnya, tidak ada yang bisa ikut campur dalam keputusan individu. Namun, karena menjadi referensi publik, UAS dinilai seharusnya tak menjadi bagian kecil karena terlibat dalam politik praktis.

"Apa pun ceritanya, dia tetap masuk dalam kontestasi. Yang melakukan kontestasi itu partai politik. Maka secara tidak langsung dia mendorong orang tertentu yang sudah diusung partai tertentu. Secara individu tak ada persoalan, namun status sosial yang melekat itu seharusnya menempatkan UAS di posisi yang besar," katanya.

Terakhir, sebaiknya dukungan UAS terhadap salah satu paslon dihindari. Sebab, pilkada adalah proses pertarungan politik. Jika dihitung kontribusi, UAS sudah sangat berkontribusi karena menjadi referensi dan cukup dipandang seluruh paslon, khususnya di Riau.

"Karena porsinya di situ, sehingga dia tidak terlibat di wilayah yang lebih teknis. Sebab, sirkulasi kekuasaan itu ada di partai politik. Reputasinya bisa jadi hancur kalau begitu. Nah, kalau mau, jadi politisi sekalian. Asal muasal pilkada ini kan karena adanya partai politik. Jadi UAS terjebak dalam posisi itu," katanya.

Ikut terlibat di tim kampanye paslon Pilbup Rokan Hulu, apa tugas yang diemban UAS?

Selanjutnya
Halaman
1 2