Lantik Pengurus Pusat JMSI, Ketua MPR Taruh Harapan Ini

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Rabu, 25 Nov 2020 23:04 WIB
MPR RI
Foto: dok. MPR RI
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo alias Bamsoet berharap Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) akan semakin melengkapi entitas kelembagaan pers pendahulunya seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI).

Ia mengatakan JMSI yang dideklarasikan pada 8 Februari 2020 di Banjarmasin, lahir dari keinginan kuat para pengelola media siber di berbagai daerah untuk membangun ekosistem pers yang sehat dan profesional.

"Tujuan dan niat mulia tersebut patut didukung oleh segenap pemangku kepentingan, terutama para insan pers," ucap Bamsoet saat mengukuhkan Pengurus Pusat JMSI periode 2020-2025, di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Rabu (25/11/20).

Bambang percaya pers 'sehat' yang menyajikan informasi secara akurat, objektif, dan berimbang, kelak akan mendorong terwujudnya masyarakat yang 'sehat' pula. Yakni masyarakat yang tidak hanya 'melek' pengetahuan, namun juga bijak dalam menyikapi segala informasi yang beredar.

"Hadirnya pemberitaan yang sehat juga dapat menjadi penyeimbang sekaligus filter atas masih maraknya informasi menyesatkan yang begitu mudah tersebar melalui berbagai platform media sosial. Baik yang bersifat mis-informasi, dis-informasi, maupun mal-informasi," paparnya.

Hingga 20 Oktober lalu, Kementerian Kominfo mencatat adanya 2.020 konten 'infodemik', yaitu informasi menyesatkan/hoax terkait pandemi COVID-19 di media sosial. Hal tersebut dipaparkan lebih lanjut oleh Ketua MPR RI ke-20 yang kini tengah mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) tersebut.

Infodemik tersebut dinilai sangat berbahaya karena lebih cepat, mudah dan tak kalah ganas dengan COVID-19. Hingga membuat Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO), Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, lantas memberi peringatan keras.

"Infodemik dinilai bisa lebih berbahaya dari virus COVID-19 itu sendiri. Karena, informasi menyesatkan yang demikian cepat menyebar, menjadikan publik kesulitan mengidentifikasi hal yang benar dan yang salah. Sehingga menyikapi dan menindaklanjuti informasi tersebut dengan cara yang juga salah," jelas Bamsoet.

Ia pun menambahkan, dampak dari pandemi COVID-19 telah menyentuh semua sektor kehidupan. Tidak terkecuali dunia jurnalisme, di mana pandemi berdampak nyata bagi bisnis media, yang pada akhirnya juga bermuara pada kesejahteraan jurnalis.

"Dengan berbagai keterbatasan gerak dan berbagai tantangan yang dihadapi, saya sangat berharap insan media tetap mengedepankan profesionalisme, menyajikan muatan pemberitaan yang mencerdaskan, dan memprioritaskan kepentingan publik," pungkasnya.

(prf/ega)