Ini Pejabat KKP yang Ikut Menteri Edhy Prabowo ke AS Sebelum Ditangkap KPK

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 25 Nov 2020 14:38 WIB
Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo
Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo (Ibnu/detikcom)
Jakarta -

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo ditangkap KPK sepulang dari Amerika Serikat. Dilaporkan ada 3 pejabat KKP juga yang ikut dalam kunjungan Edhy Prabowo ke AS itu.

Tercatat 3 pejabat KKP itu adalah Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto, Plt Dirjen Perikanan Tangkap Muhammad Zaini Hanafi, serta Direktur Pemantauan dan Operasi Armada Ditjen PSDKP Pung Nugroho Saksono.

Kunjungan Menteri Edhy Prabowo ke AS ini untuk memperkuat kerja sama bidang kelautan dan perikanan dengan salah satu lembaga riset di negara adidaya tersebut. Kerja sama ini dalam rangka mengoptimalkan budi daya udang secara berkelanjutan di Indonesia.

Menteri Edhy bertolak ke AS pada Selasa (24/11) malam dan transit di Korea Selatan. Ia tiba di Los Angeles, Amerika Serikat, pada Rabu (25/11).

"Selasa malam Pak Menteri bersama pendamping bertolak dan transit dulu di Korea Selatan. Alhamdulillah telah tiba di Los Angeles untuk transit menjalani tes PCR/swab sebagai syarat wajib masuk Hawaii," kata Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri KKP, Agung Tri Prasetyo, dalam keterangan tertulis yang diunggah laman resmi kkp.go.id pada Kamis (19/11).

Menteri Edhy juga mengunjungi Oceanic Institute (OI) di Honolulu, Negara Bagian Hawaii. OI merupakan organisasi penelitian dan pengembangan nirlaba yang fokus pada produksi induk udang unggul, budi daya laut, bioteknologi, dan pengelolaan sumber daya pesisir secara berkelanjutan. Lembaga ini afiliasi dari Hawai'i Pacific University (HPU) sejak 2003.

Sekjen KKP Antam Novambar mengatakan kerja sama dengan OI dibentuk lantaran lembaga ini memiliki teknologi dan para ahli yang mumpuni di sektor budi daya berkelanjutan, khususnya spesies udang. Target dari kerja sama adalah adanya transfer teknologi serta pendampingan teknis di bidang genetika udang dari OI.

Selain itu, KKP berharap mendapatkan grand parent stock (GPS) vaname yang dapat menghasilkan induk-induk unggul, yakni tahan salinitas rendah, toleran terhadap penyakit, dan pertumbuhannya cepat. Bahkan dengan potensi yang dimiliki, Indonesia berpeluang menghasilkan great grand parent stock (GGPS).

"Dengan adanya transfer teknologi dalam menghasilkan induk udang unggul, artinya kita dapat mengurangi ketergantungan dari induk udang impor," kata Antam.

Kerja sama ini diharapkan dapat mempermudah pembangunan broodstock center modern berskala internasional, termasuk fasilitas Nucleus Breeding Center. Sebab, dibutuhkan para ahli untuk membantu, baik dari segi ilmu genetika maupun desain broodstock center.

"Dengan aplikasi teknologi tepat guna dan modern, harapannya budi daya udang Indonesia bisa unggul. Bahkan kita bisa mengekspor indukan udang ke negara yang membutuhkan," ujar Antam.

Selanjutnya
Halaman
1 2