Pilwalkot Makassar 2020

Paslon Dinilai Saling Menjatuhkan Saat Debat Kedua, Belum Adu Gagasan

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Rabu, 25 Nov 2020 10:51 WIB
Debat kedua Pilwalkot Makassaar (dok. KPU Makassar).
Debat kedua Pilwalkot Makassaar (dok. KPU Makassar)

Dari keseluruhan jalannya debat, Sukri menilai hanya di tema terkait ekonomi para paslon dapat mengadu gagasan dengan cukup baik. Selebihnya, mereka dinilai hanya memaparkan sedikit soal visi-misi dan saling menjatuhkan.

"Kalau kita melihat, sebenarnya apa yang disampaikan oleh keempat pasangan kurang lebih sama, semuanya kan saling mengaminkan, bahwa itu memang betul, bahwa itu yang harus dilakukan, dan seterusnya. Tapi yang ditunggu masyarakat adalah tawaran yang solutif, tawaran yang inovatif, yang kira-kira nanti kalau mereka terpilih, kalau mereka mendapatkan kesempatan menjadi pasangan wali kota-wakil wali kota itu ada sesuatu yang langsung dirasakan masyarakat secara substansial," jelasnya.

Para paslon Pilwalkot Makassar pada malam tadi dinilai memaparkan visi-misi dan gagasan yang seluruhnya hampir sama, tapi membahasakannya dengan bahasa politik yang berbeda.

"Semua sepakat tentang e-governance, sepakat tentang digitalisasi, semuanya sepakat tentang transparansi dengan memanfaatkan sistem komputerisasi dengan sistem IT misalnya. Terus perbedaannya di mana? Nah komunikasi yang ini yang mestinya didapat oleh masyarakat," imbuhnya.

Karena lebih banyak fokus saling menjatuhkan, baik Danny-Fatma, Appi-Rahman, Deng Ical-dr Fadli, dan None-Zunnun, keempatnya belum mampu membujuk pemilih yang belum menentukan pilihan.

"Mereka mencoba menyerang lawan dengan harapan masyarakat melihat sisi jeleknya, sisi yang kurang baik, dan seterusnya. Jadi secara psikologi akan mempengaruhi pemilih untuk beralih, tapi siapa yang mau beralih (pilihannya) dengan melihat seperti itu?," tuturnya.

"Tadi malam kita tidak melihat hal yang inovatif, hal yang lebih praktis yang bisa dipilih masyarakat. Belum berhasil membujuk, selain itu tadi, mereka hanya mencoba memanfaatkan aspek psikologi politik dengan mencoba men-downgrade, menyerang sisi kelemahan lawan," pungkasnya.

Halaman

(nvl/idh)