Program Danny di Makassar Dinilai Mubazir, Tim ADAMA: Itu Hoax dan Fitnah!

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Selasa, 24 Nov 2020 12:47 WIB
Paslon Danny-Fatma di Debat Pilwalkot Makassar (dok. Istimewa).
Paslon Danny-Fatma di Debat Pilwalkot Makassar (dok. Istimewa)
Makassar -

Tim pasangan calon wali kota-wakil wali kota Makassar Ramdhan (Danny) Pomanto-Fatmawati Rusdi (ADAMA) menepis tudingan Direktur Eksekutif Mitra Demokrasi Indonesia (MDI) Andi Taufiq Aris yang menyebut banyak program Danny Pomanto mubazir saat menjabat wali kota Makassar. Juru Bicara Tim ADAMA Aloq Alnatsar menilai tudingan itu tak lebih dari hoax dan fitnah.

"Pernyataan itu sangat keliru, karena di masa kepemimpinan Pak Danny itu sangat banyak meraih prestasi, dengan status dia sebagai Wali Kota Makassar saat itu, seperti banyaknya penghargaan yang didapatkan baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri," kata Aloq kepada wartawan, Selasa (24/11/2020).

Aloq menilai pernyataan Andi Taufiq sebagai pengamat yang telah berpihak kepada salah satu calon Pilwalkot Makassar 2020.

"Jadi kalau dia bilang pemerintahan Pak Danny itu programnya banyak yang mubazir, saya kira itu tidak lebih karena pengamat itu berpihak, itu memang lebih banyak mengirimkan fitnah dan hoax dalam menanggapi kepemimpinan Pak Danny," ujarnya.

Terkait program Danny yang disebut mubazir seperti pengadaan halte smart, pete-pete smart, tong sampah gendang dua, pohon ketapang, gerobak kaki lima, hingga gemuknya tenaga honorer dalam Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang dinilai mubazir, Aloq menegaskan program itu sudah berjalan semuanya di Makassar. Namun memang, dia menambahkan, perlu kesinambungan lebih lanjut di periode kedua Danny Pomanto.

"Kalau misalnya yang dimaksud adalah program Pete-pete smart, itu kan menerapkannya ada prosedur, ada persyaratannya, misalnya ada SKRB (Surat Keputusan Rancang Bangun) dari Pemerintah Pusat, dari Dishub, nah itu semua baru keluar izinnya di akhir periode Pak Danny. Artinya itu sudah bisa dilanjutkan," jelasnya.

"Tidak ada program yang mubazir, misalnya Tong Sampah Gendang Dua, programnya kan jalan, tetapi ingat, kalau berbicara sampah di Kota Makassar itu berbicara budaya masyarakat dalam membuang sampah. Keinginan Pak Danny menerapkan itu di seluruh titik-titik kota itu sangat luar biasa, itu sangat visioner," lanjutnya.

Sementara itu, Jubir Tim ADAMA lainnya, Indira Mulyasari, menyebut program pemerintahan yang dinilai tidak maksimal di era Danny Pomanto tidak serta-merta dapat dinilai mubazir. Sebab, setiap program pemerintah ada peran lembaga legislatif yang mengawasi.

"Berbicara program yang berjalan atau tidak itu berarti kita berbicara eksekutif dan tentunya legislatifnya, yang salah satu tupoksinya adalah mengawasi eksekutif. Hal yang biasa jika ada program yang tidak berjalan di masa pemerintahan seorang kepala daerah karena ada alasan-alasan tertentu yang sdh menjadi pertimbangan 2 belah pihak (eksekutif dan legislatif)," jelasnya.

Indira justru menilai program Danny banyak yang berhasil. "Dari PAD saja sudah terlihat kenaikan dari Rp 500 M sebelumnya menjadi Rp 1,1 T dan terus meningkat, sehabis masa jabatan PAD kembali menurun. Biarkan masyarakat yang sudah merasakan hasil pembangunan Pak Danny menilai itu," pungkasnya.

(nvl/tor)